"Kebanyakan customer yang mobilnya itu tiba-tiba belok kiri, tiba-tiba belok kanan baru melakukan spooring. Sebenarnya, spooring itu dilakukan minimum setiap 7.000 kilometer," saran salah seorang teknisi di bengkel One Station Gading Serpong yang menerima sertifikasi Tyre and Wheel Alignment secara internasional, Iwan di Outlet One Station Carefour Lebak Bulus, Jakarta.
Sebab, kata Iwan, mobil yang sudah menempuh perjalanan sejauh 7.000 km itu pasti akan ada perubahan di sudut-sudut atau kaki-kakinya. Kalau pemilik menunggu hingga handling mobilnya tidak beres tapi sudah lebih dari 7.000 km, risiko yang lebih besar akan mengancam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, patokan 7.000 kilometer itu tidak selalu berlaku di setiap kondisi. Jika mobil selalu melewati jalan yang tidak rata atau berlubang, kondisi kaki-kaki akan cepat berubah. Alhasil, spooring harus dilakukan meski belum mencapai 7.000 km.
"Di bawah 7.000 (km) bisa di-spooring. Biasanya yang di bawah 7.000 km di-spooring mungkin dia nabrak lubang. Atau yang masih 5.000 km, dia melewati jalan yang kira-kira makan sampai 20 km dalam sekali jalan tapi jalan itu rusak. Nah itu otomatis lebih cepat berubahnya," kata Iwan.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Resmi Turun, Ini Harga BBM Se-Indonesia Juli 2026
Bahlil: Harga BBM Baru Naik 3 Minggu, Masa Udah Ditanya Kapan Turun
Insentif Kendaraan Listrik Molor lagi, Ini Alasan Menkeu Purbaya