Motor listrik yang digadang-gadang akan menjadi kendaraan operasional Makan Bergizi Gratis (MBG), EMMO JVH Max, punya tampilan yang benar-benar mirip produk China buatan Taizhou Okla. Lantas, bagaimana analisis pakar otomotif mengenai fenomena tersebut?
Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu mengatakan, ada alasan utama mengapa motor listrik yang katanya buatan Indonesia punya desain mirip produk-produk China. Menurutnya, hal itu sengaja dilakukan untuk menghemat biaya produksi.
"Fenomena ini terjadi karena mayoritas industri motor listrik Indonesia masih bergantung pada CKD dari China, tidak mau membangun jejaring industri komponen di dalam negeri, mengejar cuan lebih cepat," ujar Yannes kepada detikOto, Kamis (9/4).
"Alasan utama mereka standar: biaya produksi lebih rendah, akses teknologi cepat, dan memenuhi syarat e-Katalog LKPP," tambahnya.
Meski demikian, Yannes mengungkap dampak buruk dari kebiasaan tersebut. Salah satunya, kata dia, bisa menghambat proses transfer teknologi.
"Akibatnya, pertumbuhan perakitan kita hanya akan membuat nilai tambah ekonomi Indonesia yang minim, transfer teknologi lambat, dan ketergantungan pada komponen impor dan capital flight semakin membesar," kata dia.
Secara desain, EMMO JVH Max benar-benar terlihat identik dengan motor listrik 'white label' buatan Tizhou Okla Automotive yang bermarkas di Zhejiang, China. Bahkan, tampilannya hanya berbeda di bagian warna dan emblem.
Kemiripan EMMO JVH Max dan motor listrik Okla bisa terlihat di hampir seluruh bagian. Mulai dari headlamp atau lampu utama, windshield, spatbor, dan filter udara di bagian depan. Bahkan, detail fairing dan lampu seinnya juga benar-benar sama.
Bukan hanya di bagian depan, di bagian samping hingga ke belakang juga terlihat sangat identik. Mulai dari model jok, knalpot, mudguard, dudukan besi di ekor hingga detail sisi-sisi kendaraan benar-benar tak ada perbedaan.
Disitat dari laman made-in-china, Kamis (9/4), motor listrik Okla dijual tanpa nama atau tipe. Bahkan, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, halaman produk hanya ditulis sebagai 'Motor Listrik Scrambler Biaya Rendah dengan Motor Samping'.
Motor tersebut dijual mulai dari US$ 2.185 atau sekira Rp 37 jutaan. Nominal itu lebih terjangkau dibandingkan EMMO JVH Max yang dipasarkan seharga Rp 48 jutaan di Indonesia. Namun, belum diketahui, apakah nominal itu berstatus on the road atau off the road.
Sayangnya, laman tersebut tak menyebutkan bagaimana spesifikasi motor listrik buatan Okla. Namun, kendaraan itu bisa dibeli melalui skema CBU (completely built up) atau CKD (completely knock down.
Di Indonesia, EMMO JVH Max disebut-sebut menjadi salah satu motor listrik yang akan dipakai untuk operasional MBG di Indonesia. Menariknya, kendaraan yang dipasarkan PT Yasa Artha Trimanunggal itu baru didaftarkan hak desain industri, ke Pangkalan Data Kekayaan Intelektual, akhir tahun lalu.
Untuk model Emmo JVH Max, desain industrinya baru diterima pada 17 Oktober 2025. Sementara untuk model Emmo JVX GT, desain industrinya baru diterima tanggal 22 Agustus 2025. Kedua model ini didaftarkan dengan nama pemohon PT Adlas Sarana Elektrik.
Simak Video "Video Harga Motor Listrik Buat Operasional MBG Bikin Kaget!"
(sfn/dry)