Kenaikan harga minyak akibat agresi militer AS-Israel terhadap Iran memberi dampak besar pada penjualan mobil listrik. Di banyak negara Asia, penjualan BYD, Vinfast, dan beragam brand lain naik signifikan.
Fenomena ini salah satunya terjadi pada sebuah dealer BYD di Kota Manila, Filipina. Dalam dua pekan pertama Maret 2026, mobil listrik yang terjual jumlahnya menyamai penjualan bulanan mereka.
"Banyak klien mengganti mobilnya ke EV karena kenaikan harga BBM," kata salah seorang penjual BYD di Manila, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan cuma BYD yang kebagian gelombang besar pembelian mobil listrik akibat konflik bersenjata di Timur Tengah. Di Vietnam, sebuah dealer Vinfast mengaku berhasil menjual 250 mobil listrik hanya dalam tiga pekan sejak perang terjadi.
Itu artinya, rata-rata mereka menjual 80 mobil dalam sepekan. Padahal berdasarkan data penjualan 2025, rata-rata mobil yang terjual setiap pekan 'cuma' 50 unit.
"Pindah ke mobil listrik membantu saya menghemat uang," ujar salah seorang karyawan di Vietnam yang baru saja mengganti mobil bensinnya dengan mobil listrik Vinfast.
VinFast Limo Green (Foto: Luthfi Anshori/detikOto) |
Meski harga BBM di Indonesia belum naik, pada banyak negara Asia harganya sudah tergerek. Kenaikan ini tidak bisa dihindari lantaran penutupan Selat Hormuz di Iran. Padahal itu merupakan jalur strategi distribusi minyak dunia, di mana 80% minyak yang beredar di Asia dikirim melalui jalur tersebut.
"Harga minyak yang lebih tinggi akan membantu transisi ke kendaraan listrik. Itu menciptakan insentif ekonomi, yang akan mendorong transisi hijau," jelas Albert Park, Kepala Ekonomi Asian Development Bank.
Kondisi serupa terjadi di Thailand. Penjualan mobil listrik sempat diprediksi akan melambat seiring mulai dicabutnya insentif dari pemerintah. Namun kenaikan harga minyak membuat banyak orang tetap memilih mobil listrik.
"Pada awalnya kami tidak terlalu yakin dengan permintaan mobil listrik di 2026, karena pemerintah menurunkan subsidi kendaraan listrik, yang membuatnya jadi kurang menarik dibanding mobil pembakaran internal. (Tapi) jika harga minyak bertahan pada level ini atau bahkan naik lebih tinggi, kami memperkirakan permintaan yang lebih banyak terhadap kendaraan listrik," papar Surapong Paisitpatnapong, jurubicara Asosiasi Federasi Industri Otomotif Thailand.
Ilustrasi pengisian daya mobil listrik (Foto: Dok. Wuling Motors) |
China Paling Diuntungkan
Selain penjualan BYD yang melonjak di Asia, secara keseluruhan China dapat keuntungan besar dari tingginya harga minyak saat ini. Ekspor mobil listrik dan Plug in Hybrid negara tersebut diyakini makin berkibar.
Masih dikutip dari Bloomberg, pada dua bulan pertama 2026 saja ekspor mobil-mobil elektrifikasi China sudah dua kali lipat lebih besar dibanding periode yang sama tahun lalu.
Perang dan kenaikan harga BBM dipastikan akan membuat permintaan mobil listrik di seluruh dunia akan meningkat.
(din/din)














































Komentar Terbanyak
Warga Ngeluh Bayar Pajak Kendaraan Dipersulit, 'Nembak' KTP Asli Rp 700 Ribu
Diborong Proyek MBG, Desain Motor Listrik Emmo Baru Didaftarkan Akhir Tahun Lalu
Spesifikasi Motor Listrik Buat Operasional MBG, Harga Mulai Rp 49 Jutaan