Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) berharap pemerintah turun tangan untuk mempermudah pembiayaan kendaraan listrik, termasuk sepeda motor listrik. Salah satu usulannya adalah meminta bank-bank milik pemerintah menawarkan bunga kredit kendaraan listrik yang tidak lebih tinggi dari kendaraan berbahan bakar bensin.
Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Periklindo, Prabowo Kartoleksono, mengatakan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Sebab, bunga kredit kendaraan listrik saat ini dinilai masih lebih mahal dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).
"Pemerintah punya banyak bank, termasuk Himbara. Kenapa pemerintah tidak mengarahkan mereka agar bunga kredit kendaraan listrik tidak boleh lebih tinggi dari kendaraan ICE? Kalau perlu, bunganya dibuat lebih rendah," kata Prabowo dalam diskusi detikcom Leaders Forum bertajuk Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi, di Jakarta (20/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prabowo, perbedaan cicilan bulanan yang terlihat kecil sekalipun bisa sangat berarti bagi masyarakat dengan kemampuan finansial terbatas.
Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Periklindo Prabowo Kartoleksono Foto: Ari Saputra/detikFoto |
Ia mencontohkan, apabila cicilan motor listrik sekitar Rp 500 ribu per bulan, sementara motor bensin hanya Rp 750 ribu, selisih Rp 250 ribu bisa menjadi pertimbangan besar bagi calon pembeli.
"Untuk saudara-saudara kita yang uangnya pas-pasan, beda Rp 250 ribu sebulan itu besar sekali," ujarnya.
Prabowo menilai dukungan pemerintah tidak seharusnya hanya berfokus pada kewajiban industri memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan pengembangan riset atau research and development (R&D). Kemudahan pembiayaan juga diperlukan agar permintaan kendaraan listrik meningkat.
"Jangan cuma industri yang terus didorong dengan kewajiban TKDN, sementara R&D juga belum dihargai secara optimal. Pembiayaan harus ikut diperhatikan," tambah Prabowo.
Prabowo menambahkan, industri kendaraan listrik Indonesia masih berada dalam tahap membangun permintaan (demand creation). Jika permintaan tumbuh, industri dan rantai pasok di dalam negeri akan memiliki peluang berkembang lebih besar.
"Jadi, semuanya harus berkembang bersama-sama. Tidak bisa hanya pabrik dan R&D yang dikejar. Bantuan pemerintah harus dilakukan secara holistik," tuturnya.
Selain bunga kredit, Prabowo menyoroti premi asuransi kendaraan listrik yang dinilai masih lebih mahal dibandingkan kendaraan bensin. Ia meminta kebijakan pembiayaan dan asuransi ditinjau secara lebih bijaksana agar tidak menjadi hambatan bagi masyarakat yang ingin beralih ke kendaraan listrik.
"Asuransi mobil listrik lebih mahal loh daripada mobil bensin. Kan lucu, padahal mobil bensin itu 61 kali kemungkinan lebih mudah terbakar dibanding mobil listrik. Ini yang perlu kita sikapi lebih bijaksana," pungkasnya.

