Gara-gara Janji Manis Subsidi, Industri Motor Listrik RI Jadi Mandek

detikcom Leaders Forum

Gara-gara Janji Manis Subsidi, Industri Motor Listrik RI Jadi Mandek

Luthfi Anshori - detikOto
Jumat, 23 Okt 2026 15:35 WIB
Suasana diskusi detikcom Leaders Forum Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Hadir sebagai narasumber, Ketua Tim Kerja Industri KBLBB Direktorat IMATAP Kemenperin Patia Junjungan Monangdo, Ketua Bidang Teknologi EV Masa Depan & RND Periklindo Prabowo Kartoleksono dan CEO ALVA Purbaja Pantja.
Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Prabowo Kartoleksono. Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Industri motor listrik di Indonesia dinilai belum berkembang optimal akibat permintaan pasar yang tertahan. Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Prabowo Kartoleksono, janji subsidi Rp 7 juta pada 2025 yang tak kunjung terealisasi adalah penyebabnya.

Padahal, menurut Prabowo, industri sudah menyiapkan material dan produk dengan asumsi subsidi tersebut akan mendorong permintaan. Ketika konsumen justru menunggu kepastian bantuan pemerintah, penjualan tidak berjalan sesuai harapan dan modal industri ikut tertahan.

"Roda dua (listrik) itu harusnya pasarnya menjadi lebih pesat. Tapi nggak bisa. Kenapa? Karena 2025 kita dijanjikan oleh pemerintah yang namanya subsidi Rp 7 juta. Januari nggak keluar, Februari nggak keluar. Terus sampai Desember 31 nggak keluar juga. Nah, akibatnya karena janji itu terus ada, konsumen itu nunggu. Dengan konsumen itu nunggu, dia nggak beli berarti kan. Nanti kalau saya beli tiba-tiba keluar subsidinya rugi Rp 7 juta," buka Prabowo dalam diskusi detikcom Leaders Forum bertajuk Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi, di Jakarta (20/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Prabowo, kondisi ini menimbulkan masalah bagi pelaku industri. Produsen telanjur membeli material dan menyiapkan stok karena percaya insentif pemerintah akan mendorong permintaan pasar.

ADVERTISEMENT

"Industri sudah menyiapkan material (dari vendor) karena percaya subsidi akan tersedia. Namun, ketika permintaan tidak datang, uang mereka akhirnya mandek," ujarnya.

Dampaknya, sejumlah pelaku usaha harus mencari cara lain untuk menjual produknya. Salah satunya melalui skema rent to own, yakni konsumen menyewa motor listrik terlebih dahulu dan kendaraan menjadi miliknya setelah masa sewa berakhir.

Namun, skema tersebut membuat uang yang seharusnya langsung diterima dari penjualan tunai menjadi tertahan selama periode sewa.

Rantai Pasok Ikut Terdampak

Ditambahkan Prabowo, lesunya penjualan motor listrik juga berdampak pada industri pemasok komponen atau vendor. Ketika produsen motor tidak mendapatkan pesanan, vendor kehilangan pasar dan rencana investasinya ikut terhambat.

"Kemudian itu berefek kepada industri vendornya. Vendornya juga mau supply ke A, ke B, ke C. Akhirnya nol. Nggak ada penjualan. Akhirnya mereka menunda masuk ke Indonesia. Akhirnya industrinya belum siap sama sekali. Jadi masih impor," jelasnya.

Kondisi tersebut membuat industri komponen motor listrik di dalam negeri belum berkembang sesuai harapan. Padahal, ekosistem kendaraan listrik roda dua tidak hanya mencakup baterai, tetapi juga sasis, bodi, dan berbagai komponen kelistrikan lainnya.

Prabowo mencontohkan, komponen pengendali atau controller masih harus diimpor karena industri dalam negeri belum siap memasok kebutuhan tersebut.

Ia menilai kepastian permintaan pasar menjadi faktor penting agar industri berani meningkatkan produksi, mengembangkan pemasok lokal, dan berinvestasi di Indonesia.

"Kalau ditanya apakah industri motor listrik roda dua sudah siap, menurut saya belum. Sebab, demand (permintaan pasarnya) belum terlihat," tukas Prabowo.



(lua/rgr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads