Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap penyebab antrean panjang di sejumlah SPBU di Indonesia. Menurutnya, kondisi itu salah satunya dipicu praktik penimbunan BBM subsidi untuk dijual kembali dengan harga industri.
Bahlil menduga, ada kendaraan berkapasitas besar yang dipakai menampung solar subsidi. BBM tersebut kemudian dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang ngantri mobil Pajero atau ngantri mobil yang diisi tangkinya banyak, ngambil minyak subsidi baru dijual," kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (17/10).
Bahlil Lahadalia (Rolando/detikcom) Foto: Bahlil Lahadalia (Rolando/detikcom) |
Bahlil mencontohkan praktik tersebut terjadi di Makassar. Kata dia, ada mobil-mobil yang mampu menampung BBM hingga 700-1.000 liter. Dia pun meminta Kapolri Suyudi Ario Seto menindak tegas pelaku penyelewengan BBM subsidi.
"Masa minyak BBM solar subsidi ditampung kemudian dijual lagi dengan harga industri. Itu kan subsidinya ditanggung oleh negara," tuturnya.
Di sisi lain, Bahlil memastikan stok BBM nasional masih dalam kondisi aman, yakni sekitar 16-18 hari. Angka tersebut memang turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 18-20 hari.
Menurut Bahlil, penurunan stok tersebut terutama terjadi pada Pertalite atau BBM RON 90. Kondisi ini dipicu pergeseran konsumen dari BBM nonsubsidi seperti RON 92 dan RON 95 ke Pertalite karena perbedaan harga.
"RON 92, RON 95, RON 98 itu no issue, enggak ada masalah. Yang terjadi pergeseran dari 16 ke 18 hari itu adalah RON 90," kata dia.
SPBU Pertamina di Bali Foto: Dok. PT Pertamina Patra Niaga |
Bahlil juga meminta Pertamina memperbanyak kapal pengangkut BBM untuk memperlancar distribusi, terutama dari Jawa Timur ke Bali dan sejumlah wilayah lainnya.
Dia menegaskan, stok 16-18 hari masih berada dalam batas aman. Pemerintah memperkirakan stok bisa kembali mencapai 20 hari dalam waktu sekitar sepekan.












































