Round-up

Kisah Sopir Ambulans di Ganasnya Pandemi: Perkara Hidup-Mati dan Tudingan Hoax

Tim detikcom - detikOto
Senin, 19 Jul 2021 13:36 WIB
Belasan ambulan mengantre di TPU Rorotan, Jakarta Utara, Rabu (7/7/2021). Banyaknya jenazah yang akan dimakamkan membuat ambulan harus mengantre.
Ilustrasi sopir ambulans Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Peran sopir ambulans dalam menghadapi pandemi COVID-19 tak bisa dianggap sepele. Profesi ini dibayangi kekhawatiran terpapar virus, perasaan haru saat tak bisa menyelamatkan pasien COVID-19, bahkan saat bekerja pun dituding menakuti warga.

Herry Febrianto (39) salah satu dari banyaknya relawan yang berjibaku membantu penanganan wabah Corona di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia bergabung bersama relawan Kagama Intelek untuk menjadi sopir ambulans hingga memikul peti jenazah COVID-19 ke tempat peristirahatan terakhir.

Herry, selain menjadi relawan sebagai sopir ambulans, penyintas COVID-19 ini juga aktif mengontrol orang-orang yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman), dari menularkan motivasi sehat kembali hingga memberi makanan.

"Kebetulan saya juga penyintas COVID-19, saya sudah kena COVID-19 dua kali. Di samping jadi driver ambulans untuk anter peti, ambil pasien, ambil jenazah, sebenarnya yang utama itu untuk mereka yang isoman saya keliling ke rumah-rumah, pagi, siang, sore," kisah Herry.

Dalam membantu pasien COVID-19, salah satu pengalaman yang berkesan ialah melihat pasien sembuh. "Dan beberapa sudah sembuh dua minggu ini. Saya senang sekali, ada sekitar 80 orang," ujar Herry.

"Orang yang isoman itu terkadang mereka kehilangan motivasi untuk sembuh, karena sudah takut dengan COVID, saya tularkan (semangat) COVID itu bisa sembuh," sambung pria lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Sopir Ambulans Mondar-mandir Cari Rumah Sakit Kosong

Dalam laman LaporCovid19 sedikitnya 265 korban jiwa yang meninggal dunia positif COVID-19 dengan kondisi sedang isolasi mandiri di rumah, saat berupaya mencari fasilitas kesehatan, dan ketika menunggu antrean di IGD Rumah Sakit. Kematian di luar fasilitas kesehatan ini terjadi selama bulan Juni 2021 hingga 2 Juli 2021.

Sebagai sopir ambulans, profesi ini dikejar waktu dan terjepit dengan keadaan kesehatan pasien. Herry menggambarkan saking penuhnya, satu demi satu rumah sakit didatangi. Begitu seterusnya. Saat di rumah sakit pun, pasien COVID-19 harus antre hingga 3 sampai 4 jam.

Sudah tiga minggu bergabung, Herry menceritakan banyak relawan menemukan sulitnya mencari rumah sakit karena lonjakan pasien COVID-19, sementara di rumah sakit banyak yang tak bisa mendapat ruang perawaran intensif (ICU).

"Kita sedih jemput terburu-buru, ke rumah sakit A ditolak karena memang dia sudah penuh kapasitasnya, ke rumah sakit B juga ditolak. Akhirnya kita ke rumah sakit induk, misalnya yang tidak bisa menolak Sarjito," kata Herry.

"Permasalahannya untuk masuk ke fasilitas kesehatan itu antreannya panjang sekali bisa tiga sampai empat jam."

"Beberapa meninggal itu ketika antre, masih di dalam mobil relawan," sambung Herry.

Selama pandemi COVID-19, sopir ambulans lainnya, Hardi juga merasa cukup berat. Pengalaman pahit yang pernah dialaminya saat membawa pasien yang meninggal di dalam ambulans.

"Kalau warga yang sakit itu bisa sampai ke rumah sakit, saya merasa bangga bisa membantu apalagi bila kondisinya kritis. Tetapi kalau warga yang sakit meninggal di dalam mobil, itu yang sangat saya sesalkan," kata Hardi, seorang sopir ambulans saat berbincang dengan detikcom belum lama ini.

Tak jarang Hardi harus berkeliling mencari rumah sakit rujukan COVID-19, saat rumah sakit yang didatanginya tak bisa menampung pasien lagi. Da juga kerap mendapatkan permintaan mengantar warga yang mengeluh sakit sesak, tapi belum diketahui hasil swab testnya.

"Mau tidak mau kita harus terus mencari, minimal pasien dapat penanganan pertama dari dokter di rumah sakit, walau seadanya, bila masuk tak memungkinkan dan pasien dapat pertolongan pertama, kita pulang lagi," katanya.

"Makanya untuk persiapan, saya biasanya minta ditunjukkan rujukan sisrutenya bagaimana, atau minimal hasil swab testnya, karena banyak yang merasa sesak, terus minta ke rumah sakit, sekarang kan rumah sakit juga penuh," ucap Hardi melanjutkan.

Mengantar Hingga 5 Jenazah COVID-19 per hari

Herry mengatakan dalam satu hari saat ini tim pemulasaran bisa mengangkut hingga lima jenazah dari rumah sakit ke tempat persemayaman.

"Kalau untuk satu tim pemulasaran jenazah itu bisa sampai 5 jenazah dalam sehari, itu bisa pagi sampai tengah malam," tutur Herry.

Hal senada juga turut dirasakan Hardi, mengaku sering mendapatkan permintaan untuk membawa pasien COVID-19 yang bergejala. Dalam satu hari ia bisa mengangkut hingga empat hingga lima warga yang terpapar. Tak jarang pula ia mengangkut jenazah dari rumah sakit ke tempat persemayaman di luar Bandung Raya.

"Saya mulai berkegiatan itu dari pagi ya, kadang pulangnya sampai pagi lagi. Kalau permintaan terus menerus ya kita coba semampu kita, kalau tidak terlayani kita lempar ke ambulans lain yang siap," kata Hardi yang juga menjabat sebagai Kabag Hukum DPW Persaudaraan Pengemudi Ambulance Indonesia (PPAI) Jawa Barat.

Kondisi tersebut, dikatakannya cukup kontras dibandingkan saat sebelum Lebaran. Biasanya, hanya sesekali mengangkut pasien COVID-19, dan dua atau tiga pasien non covid di sekitar wilayah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tetapi belakangan ini, jumlah permintaan itu meningkat drastis baik dari sekitaran Padalarang, maupun dari luar Padalarang.

"Kalau untuk ambulans itu 4-5 kali, bahkan sampai permintaan luar kota pun ada. Termasuk mengantar jenazah ke luar kota. Kita kedepankan kemanusiaan, sebagai driver ambulans saya sendiri tidak pernah memilih ini pasien apa, pasien apa," tuturnya.

Persiapan harus matang, khawatir menularkan virus ke keluarga

Di sisi lain, relawan hingga sopir ambulans merupakan manusia biasa, yang juga menyimpan kekhawatiran dalam menjalankan profesinya.

"Saya manusiawi, khawatir itu ada, cuma manusia diberi akal budi kecerdasan. Kita harus bisa memilah-milah mana yang tidak perlu dikhawatirkan, mana yang bisa kita atasi," kata Herry Febrianto.

Dia pun sempat khawatir membawa virus dan menularkannya ke keluarga. Namun hal itu dapat ia tangani dengan mengetatkan protokol kesehatan.

"Saya konsultasi ke kakak kelas saya, Kepala Forensik RS Sardjito, saya pulang langsung lepas baju, saya cuci pakai sabun, saya mandi, keramas, sudah, virus yang di luar sudah selesai," kata Herry.

"Selama bekerja saya selalu prokes pakai masker, sarung tangan, pakai penutup kepala," kata dia.

Keluarganya pun, dikatakan Herry, telah memahami risikonya. Walau begitu, Herry kerap mengganti baju dan mandi sebelum bersentuhan dengan keluarga di rumahnya.

"Bisa jadi saya kuat, tapi pada saat saya pulang, nempel ke anak istri saya kan kasihan," kata Herry.

Pun dengan Hardi, memastikan kondisi tubuhnya tetap prima. Salah satu kiat yang dijalankannya adalah makan teratur, rutin minum air hangat dan vitamin C.

"Kalau untuk perlengkapannya kita sediakan APD, dan disinfektan untuk tubuh kita sendiri dan kendaraan," ujar Hardi.

halaman berikutnya hoaks ambulans mondar-mandir takuti warga

Lihat Video: Kesedihan Sopir Ambulans Tak Bisa Selamatkan Pasien COVID-19

[Gambas:Video 20detik]



Hoaks Ambulans Mondar-mandir untuk Takuti Warga

Raungan sirene ambulans semakin sering terdengar belakangan ini seiring dengan terjadinya lonjakan jumlah kasus COVID-19 dan tingginya angka kematian.

Kabar palsu pun menyebar bahwa ambulans kosong dirancang mondar-mandir untuk menakut-nakuti warga. Bahkan informasi hoaks itu menyebabkan sebuah ambulans yang mengantarkan pasien suspek COVID-19 dirusak menggunakan helm oleh pemotor di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Polisi sudah meringkus pelaku perusakan mobil ambulans yang tengah membawa pasien di Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pelaku bernama Unyil merusak kaca mobil ambulans dengan helm karena termakan hoax medsos yang menyebut banyak mobil ambulans yang lalu lalang aslinya tidak membawa pasien.

Herry Febrianto menjelaskan bagaimana sebuah mobil ambulans bekerja di tengah pandemi COVID-19.

"Ambulans kosong itu belum tentu tidak ada gunanya, justru ambulans kosong itu kadang dia buru-buru dia mau jemput orang yang kritis," kata Herry.

Ada dua poin yang coba diungkapkan melalui tulisan Facebooknya. Pertama, Herry menceritakan saat ambulans kosong masuk ke perkampungan sembari menyalakan sirene bukan untuk menakuti warga. Sebab, terdapat relawan yang saat ini ikut turun ke lapangan yang belum mengenal daerah. Menyalakan sirene jadi salah satu cara agar bisa dengan cepat menemukan lokasi pasien.

"Saat ini cara kami melayani orang yang sakit/menjemput jenazah di rumah adalah via WAG dan HT. Ketika info mengudara, misal : " mohon bantuan kepada relawan terdekat, di daerah Baciro RT XX RW XX, belakang hotel xxx masuk ke timur, an Bp Tukiman. Positif Covid, mengalami pemburukan napas. Tolong dibawa ke RSUD untuk ditangani," tulis Herry melalui unggahannya untuk dimuat atas izin yang bersangkutan, Jumat (16/7/2021).

"Lalu ada satu tim yang meluncur ke sana. Kami nggak paham daerah, kami hanya tahu ancer-ancer. Perlu Anda ketahui pula bahwa sopir ambulans yang bertugas saat ini BUKAN sopir ambulans asli. Mereka adalah relawan yang aslinya mungkin dosen, karyawan, ustaz, mas-mas satgas, dsb."

"Nah, saat kami menjemput pasien yang kritis, ya harus cepat. Maka saat kami masuk gang, ya kami nyalakan sirene supaya keluarga atau tetangga si sakit mendengar ambulans sudah datang dan mengarahkan kru kami ke rumah ybs. Itu sangat menghemat waktu dan mungkin sangat berarti bagi beliau yang bertarung nyawa dengan Covid. Jadi ambulans kosong itu sedang MENCARI seseorang yang hendak diselamatkan nyawanya," sambung Herry.

Poin yang kedua, Herry menjelaskan alasan kenapa ambulans saat ini berjalan beriringan. , dia menjelaskan, dalam menangani jenazah COVID-19 terbagi menjadi tiga tim; yakni pemulasaran jenazah, tim pemakaman, dan tim untuk dekontaminasi lingkungan.

"Ketika ada panggilan untuk menyucikan/memandikan jenazah Covid di rumah warga, kami membawa tiga tim. Tim satu adalah tim pemulasaraan jenazah, yang mengkafani dan membersihkan jenazah. Tim kedua adalah tim pemakaman. Satu lagi tim dekontaminasi lingkungan yang bertugas menyemprotkan bahan sterilisasi di sekitar rumah dan di pemakaman," tulis Herry.

"Ketika jenazah sudah masuk peti dan siap dimakamkan, hanya seorang driver ambulans dan si jenazah saja yang boleh ada di ambulans. Kru lain tidak boleh masuk. Maka dia harus umpek-umpekan di dalam ambulans kedua. Jadi dua ambulans itu BUKAN gagah-gagahan, tapi memang kebutuhan," sambung dia.

Jangan Termakan Hoaks Ambulan Kosong untuk Takuti Warga

Kapolres Bantul AKBP Ihsan meminta kepada masyarakat tidak menelan mentah-mentah segala postingan di media sosial. Pasalnya, mobil ambulans menyalakan sirene karena memang kondisi darurat dan harus cepat mengantar pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan.

"Dengan kasus ini mengimbau kepada masyarakat isu tersebut tidak benar. Jadi isu ambulans muter-muter tanpa pasien itu tidak benar, dan itu terbukti dalam kasus ini," ujar Ihsan.

(riar/rgr)