Hoax Ambulans Kosong Mondar-mandir untuk Takuti Warga, Begini Kondisi Sebenarnya

Ridwan Arifin - detikOto
Sabtu, 17 Jul 2021 08:26 WIB
Belasan ambulan mengantre di TPU Rorotan, Jakarta Utara, Rabu (7/7/2021). Banyaknya jenazah yang akan dimakamkan membuat ambulan harus mengantre.
Ilustrasi ambulans penjemput dan pengantar pasien COVID-19 (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Raungan sirene ambulans semakin sering terdengar belakangan ini seiring dengan terjadinya lonjakan jumlah kasus COVID-19 dan tingginya angka kematian. Kabar palsu pun menyebar bahwa ambulans dirancang kosong mondar-mandir untuk menakut-nakuti warga. Bahkan informasi hoaks itu menyebabkan sebuah ambulans yang mengantarkan pasien suspek COVID-19 dirusak menggunakan helm oleh pemotor di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Polisi meringkus pelaku perusakan mobil ambulans yang tengah membawa pasien di Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pelaku bernama Unyil merusak kaca mobil ambulans dengan helm karena termakan hoax medsos yang menyebut banyak mobil ambulans yang lalu lalang aslinya tidak membawa pasien.

Guna menepis hoaks, seorang relawan aksi Solidaritas Relawan Jogja (SONJO) Herry Febrianto melalui akun Facebooknya menceritakan bagaimana sebuah mobil ambulans bekerja di tengah pandemi COVID-19.

"Sebetulnya itu reaksi saya karena sehari saya sebelum menulis itu, di Jogja ada kasus ambulans, katanya dilempar pakai helm di daerah Piyungan, Bantul. Malamnya kita audiensi dengan polisi langsung ditangkap, paginya saya buat artikel itu, bahwa ambulans kosong itu belum tentu tidak ada gunanya, justru ambulans kosong itu kadang dia buru-buru dia mau jemput orang yang kritis," tanggap Herry saat dihubungi detikcom, Jumat (16/7/2021).

Relawan SONJO dari Kagama Intelek ini terjun langsung menjadi relawan sebagai sopir ambulans, menjemput pasien, hingga pengangkut jenazah ke peristirahatan terakhir.

Ada dua poin yang coba diungkapkan melalui tulisan Facebooknya. Pertama, Herry menceritakan saat ambulans kosong masuk ke perkampungan sembari menyalakan sirene bukan untuk menakuti warga. Sebab, terdapat relawan yang saat ini ikut turun ke lapangan yang belum mengenal daerah. Menyalakan sirene jadi salah satu cara agar bisa dengan cepat menemukan lokasi pasien.

"Saat ini cara kami melayani orang yang sakit/menjemput jenazah di rumah adalah via WAG dan HT. Ketika info mengudara, misal : " mohon bantuan kepada relawan terdekat, di daerah Baciro RT XX RW XX, belakang hotel xxx masuk ke timur, an Bp Tukiman. Positif Covid, mengalami pemburukan napas. Tolong dibawa ke RSUD untuk ditangani," tulis Herry melalui unggahannya untuk dimuat atas izin yang bersangkutan, Jumat (16/7/2021).

"Lalu ada satu tim yang meluncur ke sana. Kami nggak paham daerah, kami hanya tahu ancer-ancer. Perlu Anda ketahui pula bahwa sopir ambulans yang bertugas saat ini BUKAN sopir ambulans asli. Mereka adalah relawan yang aslinya mungkin dosen, karyawan, ustaz, mas-mas satgas, dsb."

"Nah, saat kami menjemput pasien yang kritis, ya harus cepat. Maka saat kami masuk gang, ya kami nyalakan sirene supaya keluarga atau tetangga si sakit mendengar ambulans sudah datang dan mengarahkan kru kami ke rumah ybs. Itu sangat menghemat waktu dan mungkin sangat berarti bagi beliau yang bertarung nyawa dengan Covid. Jadi ambulans kosong itu sedang MENCARI seseorang yang hendak diselamatkan nyawanya," sambung Herry.

Poin yang kedua, Herry menjawab mengapa ambulans saat ini lebih dari dua unit dan jalan beriringan. Dalam keterangannya, dia menjelaskan, dalam menangani jenazah COVID-19 terbagi menjadi tiga tim; yakni pemulasaraan jenazah, tim pemakaman, dan tim untuk dekontaminasi lingkungan.

"Ketika ada panggilan untuk menyucikan/memandikan jenazah Covid di rumah warga, kami membawa tiga tim. Tim satu adalah tim pemulasaraan jenazah, yang mengkafani dan membersihkan jenazah. Tim kedua adalah tim pemakaman. Satu lagi tim dekontaminasi lingkungan yang bertugas menyemprotkan bahan sterilisasi di sekitar rumah dan di pemakaman," tulis Herry.

"Ketika jenazah sudah masuk peti dan siap dimakamkan, hanya seorang driver ambulans dan si jenazah saja yang boleh ada di ambulans. Kru lain tidak boleh masuk. Maka dia harus umpek-umpekan di dalam ambulans kedua. Jadi dua ambulans itu BUKAN gagah-gagahan, tapi memang kebutuhan," sambung dia.

Jangan Termakan Hoaks Ambulan Kosong untuk Takuti Warga

Kapolres Bantul AKBP Ihsan meminta kepada masyarakat tidak menelan mentah-mentah segala postingan di media sosial. Pasalnya, mobil ambulans menyalakan sirene karena memang kondisi darurat dan harus cepat mengantar pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan.

"Dengan kasus ini mengimbau kepada masyarakat isu tersebut tidak benar. Jadi isu ambulans muter-muter tanpa pasien itu tidak benar, dan itu terbukti dalam kasus ini," ujar Ihsan saat jumpa pers di Mapolres Bantul, Rabu (14/7/2021).

"Untuk pelaku disangkakan Pasal 406 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 2 tahun 8 bulan," lanjut Ihsan.

Sementara itu, Unyil mengakui perbuatannya. Unyil juga mengaku melakukan perusakan itu karena termakan isu ambulans kosong yang banyak beredar di medsos.

"Iya (saya mengakui merusak mobil ambulans) dan saya menyesal. Itu (merusak mobil) karena termakan sosmed yang bilang kalau ambulans suka lewat-lewat dan menghidupkan sirene itu aslinya kosong (tidak membawa pasien)," ucapnya.



Simak Video "Sopir Bantah Ambulans Kosong Berkeliaran untuk Takuti Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)