Kamis, 10 Jan 2019 19:31 WIB

Langkah Kongkrit Kota Semarang Tularkan BBG

Angling Adhitya Purbaya - detikOto
Rapid Transit Semarang Foto: Angling Adhitya Purbaya Rapid Transit Semarang Foto: Angling Adhitya Purbaya
Semarang - Kota Semarang pastikan ke depannya ada 72 bus transportasi massa yang menggunakan bahan bakar gas (BBG). Ini merupakan langkah pasti pemerintah kota Semarang untuk bisa menularkan peran gas ke masyarakat.

Seperti yang disampaikan Hendrar Prihadi, Walikota Semarang, saat peluncuran 72 bus Rapid Transit Semarang, Rabu (9/1/2018) kemarin.

"Semarang menggunakan bahan bakar gas (BBG) sebenarnya sejak 2013. Dengan adanya program Jargas untuk sasaran rumah tangga dan industri. Dimulai dengan pemasangan instalasi di Tambakaji dan Semarang Timur. Kemudian kali ini ke sarana transportasi," ujar Hendrar.



Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang memperoleh teknologi konversi langsung dari Jepang, kini bus Trans Semarang pun sudah mengkawinkan bahan bakar solar dengan bahan bakar gas.

Teknologi konverter dengan sistem retrofit tersebut didatangkan langsung dari Kota Toyama Jepang. Ada sejumlah komponen yang disematkan pada 72 unit BRT yang mulai hari ini bertenaga campuran antara solar dan gas dengan perbandingan 30 solar dan 70 CNG (Compressed Natural Gas).

Komponen tersebut antara lain 3 tabung gas, nozel untuk mengisi gas, mixer, pengatur penggunaan solar, dan lainnya. Solar yang dikonsumsi jauh berkurang dari biasanya dengan adanya converter gas. Dua bahan bakar itu menyatu membuat efisiensi bahan bakar dan mengurangi emisi karbon yang keluar.



Dampaknya ke kendaraan yaitu hemat bahan bakar. Uji coba pernah dilakukan di koridor 5. Bahan bakar untuk full solar butuh 77 liter atau setara sekitar Rp 398 ribu. Kemudian dengan rute yang sama menggunakan bahan bakar gas (BBG), butuh 19,5 liter solar dan 30 lsp CNG dengan harga Rp 4.500 per lsp. Artinya penghematan bisa sekitar Rp 100 ribu per unit sehari.

"Sebanyak 72 bus dari koridor 1, 5, 6, 7, dan koridor Bandara telah dipasang alat konveter BBG dan rampung pada Desember 2018," ujar Hendrar.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang Ade Bhakti Ariawan menambahkan, untuk keamanan pengisian gas semua terjamin. Valve yang terpasang adalah valve yang aman yang hanya bekerja berdasarkan koneksi dari Electronic Control Unit (ECU). Jika tidak ada perintah dari ECU, gas tidak akan keluar dari tabung.

"Oleh karena itu tabung bahan bakar tidak akan mengalami kebocoran termasuk selang sambungan meski terlepas tidak menyebabkan kebocoran. Terkait dengan ketahanan tabung, sudah melewati tahapan tes. saat diuji coba, tabung ditembak peluru 12 mm tidak tembus. Sehingga aman digunakan pada BRT Trans Semarang" jelas Ade.

Terwujudnya Trans Semarang berbahan bakar gas tersebut merupakan hasil kerjasama dengan kota Toyama Jepang dengan Pemkot Semarang dengan anggaran sebesar 10 Miliar. Hal itu telah disetujui Kementerian Lingkungan Hidup Jepang untuk pembiayaan dibiayai 50 persen dengan skema Joint Crediting Mechanism (JCM). Sisa pembiayaan 50 persen akan ditanggung oleh APBD Kota Semarang. (lth/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed