Industri pelumas menurut Hidayat merupakan salah satu industri strategis dengan pertumbuhan yang cukup pesat.
Hal tersebut terlihat dari permintaan produk pelumas yang terus meningkat setiap tahunnya, karena didorong semakin meningkatnya jumlah kendaraan baik di darat, laut, maupun udara, serta didukung dengan berkembangnya sektor industri di Indonesia dari sisi produksi dan konstruksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini menjadikan pabrik pelumas terbesar di Indonesia yang dioperasikan oleh perusahaan internasional dengan harapan akan memasok pelumas bermutu tinggi dari berbagai jenis untuk pasar consumer, transportasi, industrial, dan kelautan di dalam negeri.
"Kami mengucapkan terima kepada Shell telah memilih Indonesia sebagai tempat untuk berinvestasi sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan akan menumbuhkan perekonomian nasional. Di samping itu, kami juga mendukung Shell yang akan menerapkan program pemerintah dalam mengembangkan industri berwawasan lingkungan atau industri hijau dengan mewujudkan komitmen sustainable development," tegas Hidayat di situs Kementerian Perindustrian.
Groundbreaking atau pemancangan tiang pertama secara resmi hari ini dilakukan di Hotel Mandarin, dihadiri oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat, Shell Global Commercial Executive Vice President Mark Gainsborough, Presdir Shell Indonesia Darwin Silalahi, juga Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Benny Wahyudi.

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini, terdapat lebih dari 200 produsen pelumas di Indonesia yang tersebar diberbagai wilayah terutama di Pulau Jawa.
Kapasitas produksi terpasang mencapai 700.000 Kiloliter per tahun dengan nilai omzet diperkirakan mencapai lebih dari Rp. 7 triliun.
Potensi produksi pelumas yang tinggi tersebut akan dapat mendorong ekspor pelumas ke negara-negara ASEAN, Jepang, China, Korea Selatan, Timur Tengah, maupun Uni Eropa.
Menperin mengatakan, industri pelumas saat ini mendapat tantangan dengan bahan baku dan bahan aditif yang sebagian besar masih diimpor.
Hal ini menjadikan industri pelumas di Indonesia masih sebatas formulasi dan pencampuran (compounding), belum terintegrasi antara industri hulu (upstream) dan hilir (downstream). Oleh sebab itu, perlu menjaga rantai pasok bahan bakar sehingga menghasilkan pelumas yang terintegrasi dengan minyak dan minyak dasar pelumas (lube base oil).
"Tantangan ini perlu dijawab oleh para investor dengan membuka atau ekspansi pabrik demi memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor," ujarnya.
Di samping itu, industri pelumas juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah karena menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun, serta pengembangan teknologi produk agar konsumsi energi menurun dan menghasilkan produk yang inovatif.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
SIM Digital Meluncur, Apa Keunggulannya?
Hitung-hitungan Penghasilan Ojol Usai Tarif Aplikasi Dipangkas
Honda 'Brio Listrik' Resmi Meluncur, Segini Harganya