Mobil Kena Banjir? Jangan Langsung Dinyalakan! Lakukan Ini biar Aman

Muhammad Hafizh Gemilang - detikOto
Minggu, 07 Nov 2021 09:12 WIB
Mobil yang Sempat Terendam Banjir Kemang Dievakuasi (Tiara Aliya/detikcom)
Foto: Mobil yang Sempat Terendam Banjir Kemang Dievakuasi (Tiara Aliya/detikcom)
Jakarta -

Memasuki akhir tahun, curah hujan di Indonesia menjadi meningkat dan banjir mulai menghantui beberapa kota di Indonesia. Banjir dapat membuat masalah pada kendaraan bermotor, salah satunya kepada mobil.

Service Manager Auto2000 Cilandak pernah berbagi tips kepada detikOto, tentang penanganan pertama ketika mobil terkena banjir. Pertama dan yang paling utama, menurut Auto2000 adalah jangan langsung menyalakan mobil.

"Sehabis mobil terendam banjir, pastikan kita tidak coba-coba menghidupkan mesin. Sekali lagi, jangan coba-coba," kata Service Manager Auto2000 Cilandak, Suparna.

Mengapa kita sangat dilarang menyalakan mobil yang terkena banjir atau tergenang air? Karena setelah terkena banjir, tentu komponen kelistrikan dari mobil banyak terendam. Ketika komponen kelistrikan tersebut dinyalakan, akan berpotensi mengalami korsleting dan membuat komponen ECU (Electronic Control Unit) hingga kabel bodi (wiring) rusak.

Tak hanya itu, ketika terkena banjir, air juga dapat masuk ke ruang bakar. Salah satu gejala yang paling umum dan fatal adalah water hammer.

"Misalnya air sempat mencapai dan terciprat ke area intake manifold, maka air akan masuk ke dalam mesin saat proses starter. Dan mesin bisa mengalami water hammer," lanjut Suparna.

Saat air banjir tersedot masuk ke ruang bakar, gejala water hammer mungkin tidak langsung terjadi. Ada kondisi mobil mengalami water hammer beberapa waktu setelah menerobos banjir. Gejala awalnya adalah mesin terasa kasar.

Jika mesin dipaksa saat ada air masuk ke ruang bakar yang tidak bisa dikompresi, risiko terburuknya adalah mesin jebol hingga blok silinder pecah. Penyebabnya, karena setang piston bengkok, patahan setang piston itu menonjok dinding silinder sehingga silinder mesin pecah.

Kalau sudah seperti itu, perbaikannya tentunya tak murah. Mobil harus turun mesin dan perlu diganti mesin baru jika ingin tetap dipakai. Selain mahal, perbaikannya pun membutuhkan waktu lama.