Bos Bajaj Tutup Usia: Ini Kiprahnya Laris Manis Bikin Skuter 'Kloningan' Vespa

Ridwan Arifin - detikOto
Selasa, 15 Feb 2022 17:29 WIB
Rahul Bajaj
Rahul Bajaj Foto: Dok. Forbes
Jakarta -

Rahul Bajaj, bos raksasa otomotif India tutup usia di umur 83 tahun, Sabtu (12/2) lalu. Berkat tangan dinginnya, Bajaj pernah menyandang merek motor dengan pabrik skuter terbesar di dunia. Berikut ini ceritanya!

Berbagai transformasi sudah mereka lakukan, mulai dari importir, rekanan produksi merek lain hingga akhirnya sanggup membuat motor sendiri dan menyebarkannya ke 50 negara di dunia.

Produsen ini bahkan sudah memiliki 3 pabrik di Chakan, Waluj dan Pantnagar setelah berdiri sejak 29 November 1945 dengan nama Bachraj Trading Corporation Private Limited yang mengimpor kendaraan roda dua dan tiga ke India.

Alhasil, Bajaj yang dahulu hanya berstatus sebagai importir, lalu mencomot motor merek lain untuk diberi merek mereka kini sudah bisa berjalan sendiri. Bahkan Bajaj sudah mampu membeli merek KTM yang sejarahnya lebih panjang dari mereka.

Rahul merupakan cucu dari grup Bajaj, Jamnalal Bajaj. Dia merupakan generasi ketiga Bajaj yang meneruskan tongkat estafet kepemimpinan.

Rahul Bajaj berusia 34 tahun ketika, sang ayah, Kamalnayan Bajaj meninggal pada tahun 1972. Rahul menjalankan konglomerat industri di pundaknya yang masih muda.

Pada tahun yang sama, ia meluncurkan tiga produk baru, termasuk Bajaj Chetak, skuter yang mendorong perusahaan-Bajaj Auto-mencapai kesuksesan nasional dan internasional. Desainnya mirip dengan Vespa.

Rahul Bajaj juga orang di balik kampanye pemasaran "Humara Bajaj", yang dipandang sebagai salah satu kampanye paling ikonik di India. Arti dari slogan itu "Bajaj adalah kita" atau "Bajaj milik kita".

Dicuplik dari Indian Express, Selasa (15/2/2022) Vespa merupakan salah satu skuter yang tengah digemari pada 1950-an. Model ini juga dijual dan dirakit oleh beberapa pemegang lisensi di India.

Di antara perusahaan India yang telah terikat dengan Piaggio untuk merakit Vespa adalah Bajaj Group. Pada tahun 1960, Bajaj Auto telah menandatangani kontrak dengan Piaggio untuk memproduksi Vespa 150 Gran Sport VS 5 di India.

Tetapi pada medio 1971 kerjasama ini tiba-tiba berakhir ketika pemerintah Indira Gandhi menolak izin untuk melanjutkan kerjasama dengan Piaggio, yang diam-diam menjadi momen penting bagi Bajaj Auto.

Dengan cepat Bajaj memulai lokalisasi produknya. Bajaj Auto terus memproduksinya dengan meluncurkan tiga model di bawah merek Bajaj, yakni Chetak, Bajaj 150 dan Bajaj Super secara berurutan. Desain ketiganya didasarkan pada skuter Vespa yang diproduksi untuk Piaggio.

Ketika perusahaannya berada di puncak, masa tunggu untuk skuter Bajaj bahkan mencapai 10 tahun. Orang-orang yang mendapatkan skuter Chetak dan Super menjualnya secara paralel, walhasil menimbulkan pasar gelap yang juga berkembang dengan popularitas skuter Bajaj.

Pada produk Bajaj Chetak menjadi sukses besar untuk merek di India dan Bajaj menjadi nama rumah tangga di rumah tangga kelas menengah.

Rahul Bajaj tidak puas menjual skuternya di India saja dan bisa memproduksi lebih banyak Chetak daripada yang diizinkan pemerintah untuk dijual. dia mulai mengekspornya ke Eropa dan Amerika, meskipun jumlahnya tetap kecil. Pada tahun 1981, Bajaj Auto telah memperoleh Rs 13,2 crore melalui ekspor skuternya. Dalam waktu yang sama, ia juga menjalankan kampanye iklan agresif, majalah Time yang menjuluki dirinya sebagai "salah satu dari dua produsen skuter terbesar di dunia".

Piaggio kemudian menuduh Bajaj "menyalahgunakan desain Vespa" dan terus memproduksi dan menjual kendaraan bahkan setelah akhir kontrak pada tahun 1971. Bajaj menyewa firma hukum terkenal Baker-Mckenzie.

Bajaj mengklaim memiliki hak untuk menggunakan desain bahkan setelah berakhirnya kontrak.

"Bajaj mengklaim bahwa perjanjian terakhir antara para pihak dilaksanakan dengan pemahaman yang jelas bahwa hak Bajaj untuk memproduksi kendaraan ini akan bertahan dari perjanjian lisensi," bunyi putusan Pengadilan Distrik California Juni 1982 yang menolak kasus Piaggio.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah India mengendurkan hambatan investasi asing di industri roda dua. Piaggio kembali ke India dengan bermitra dengan LML (Lohia Machinery) dan Andhra Pradesh Scooters untuk menjual Vespa di India.

Keputusan pemerintah untuk mengizinkan Piaggio kembali ke India membuat Bajaj marah.

"Piaggio datang ke sini dengan mengklaim bahwa mereka memiliki teknologi yang lebih baik, kendaraan yang lebih baik, dan kesepakatan yang lebih baik untuk pelanggan India. Jika mereka jauh lebih baik dari kita, mereka bisa dengan mudah mengalahkan kita di Amerika dan Jerman," kata Bajaj seperti dikutip dalam buku Piramal Business Maharajas.

"Mengapa mereka mengambil jalan lain ke pengadilan? Kemarahan saya ditujukan kepada pemerintah India karena mengizinkan mereka masuk lagi. Itu membuat darah saya mendidih," kata Bajaj.

Di bawah kepemimpinan Rahul, grup ini tumbuh menjadi perusahaan besar yang masuk ke dalam daftar 40 perusahaan berpengaruh di India. Kesuksesannya ini membawa Rahul bergabung dengan peringkat miliarder untuk pertama kalinya pada tahun 2007 dengan kekayaan bersih US$ 1,1 miliar.

Pada saat terakhirnya, Rahul memiliki kekayaan US$ 8,2 miliar atau mencapai Rp 117 triliun (kurs Rp 14.300). Dia berada di peringkat 302 dunia, menurut peringkat miliarder real-time Forbes.

Bajaj menyerahkan operasi pada tahun 2005 kepada dua putranya Rajiv, yang menjalankan Bajaj Auto, dan Sanjiv yang lebih muda, yang bertanggung jawab atas unit layanan keuangan perusahaan.



Simak Video "Ngirit Ongkos, Pemudik Ini Naik Bajaj dari Jakarta ke Tegal"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/lth)