Premium dan Pertalite Bakal Dihapus, Apa Semua Motor Cocok Pakai Pertamax?

Ridwan Arifin - detikOto
Rabu, 29 Des 2021 15:09 WIB
SPBU MT Haryono, Jakarta, mulai menerapkan protokol kenormalan baru. Saat mengisi bensin, pengendara harus menjaga jarak.
Ilustrasi isi bensin Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

BBM jenis Premium (RON 88) dan Pertalite (91) bakal dihapus dari peredaran. Apakah semua motor cocok menggunakan BBM Pertamax?

Penghapusan BBM Premium dan Pertalite dilakukan untuk mendorong penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan. Sesuai standar Euro 3 pada sepeda motor, BBM minimal menggunakan Research Octane Number (RON) minimal 91.

Seperti diketahui Pertamina menjual Pertamax dengan nilai oktan 92, lalu Pertamax Turbo RON 95 dan Pertamax Turbo RON 98. Tapi apakah semua motor cocok menggunakan RON 92?

Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung Tri Yuswidjajanto Zaenuri menjelaskan timing ignition dan kompresi bisa menentukan cocok tidaknya BBM. Lebih lanjut, jenis BBM sudah direkomendasikan pabrikan yang menyesuaikan bensin yang tersedia di pasar serta standar emisi.

"Sepeda motor itu tahun 2003 Euro 2, tahun 2013 itu Euro 3. Walaupun Euro 3 dan Euro 4 tetap minimum oktannya 91. Harusnya karena sudah ada penyesuaian dua kali sepeda motor ya, mestinya nanti dengan Pertamax harusnya lebih bagus, kan," ujar Tri saat dihubungi detikcom, Kamis (28/12/2021).

"Jadi nanti itu motor-motor yang pakai Premium lalu ganti ke Pertamax jadi lebih irit. Jadi karena sekarang oktannya cocok sama desain mesinnya, maka mestinya nanti emisinya rendah, irit bahan bakar. Nanti akan lebih irit," tambah dia.

Lalu bagaimana dengan motor-motor teknologi kuno yang menggunakan kompresi rendah?

Pengamat Otomotif sekaligus Akademisi ITB, Yannes Pasaribu mengatakan kompresi ruang bakar mesin berteknologi lama (karburator) dan kompresi rendah seperti yang ada pada banyak kendaraan roda empat yang ada di Indonesia s/d tahun 1981-an kurang lebih berjumlah 4.629.783 buah dan roda dua berjumlah sekitar lima kalinya, memiliki tingkat kompresi mesin dibawah 9:1.

"Jenis kendaraan ini yang akan jadi korban BBM oktan tinggi," kata dia.

Dijelaskan karena angka oktannya terlalu tinggi dan timing pengapiannya tidak bergeser otomatis seperti motor zaman sekarang, maka bahan bakar tidak terbakar. Lalu apa ada solusinya?

"Kalau nggak cocok timing-nya nanti lemot, digas spontan nggak langsung kencang. Itu saja, kalau seperti itu adanya, berarti dia harus menyesuaikan timing-nya," kata Prof Tri.

"Tapi kalau misalnya timing nggak terkejar, yasudah cylinder head dipapras saja, supaya kompresinya naik. Pasang lagi. Jadi sebenarnya tidak perlu banyak biaya untuk menyesuaikan," jelasnya.



Simak Video "Tinggal 7 Negara yang Pakai Bensin Setara Premium, Masih Mau Pakai?"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)