Awas Fuel Dilution! Motor Pakai Bensin Oktan Tinggi Belum Tentu Bagus

Ridwan Arifin - detikOto
Rabu, 29 Des 2021 09:37 WIB
PT Pertamina (Persero) menaikan harga dua produk bahan bakar minyak (BBM) non subsidi per 18 September 2021. Dua produk tersebut berupa Pertamax Turbo RON 98 dan Pertamina Dex.
Ilustrasi isi bensin Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Selama ini anggapan menggunakan bensin beroktan tinggi lebih baik tidak sepenuhnya benar. Hal ini berlaku buat kompresi mesin yang rendah tapi menggunakan BBM dengan Research Octane Number (RON) tinggi.

Setiap pabrikan sudah merekomendasikan penggunaan BBM yang disarankan. Saat menggunakan BBM beroktan lebih tinggi atau lebih rendah, maka bakal timbul masalah seperti fuel dilution.

"Fuel dilution adalah kondisi di mana BBM dari ruang bakar masuk ke dalam crankcase dan bercampur dengan oli mesin, sehingga akan mengurangi performa oli mesin. Salah satu penyebabnya dapat terjadi akibat oktan BBM terlalu rendah atau terlalu tinggi. Penyebab lainnya adalah dinding silinder aus dan ring piston lemah, dan kebocoran injektor," ujar Pengamat Otomotif sekaligus Akademisi Institut Teknologi Bandung, Yannes Pasaribu saat dihubungi detikcom, Selasa (28/12/2021).

Lebih lanjut, Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung Tri Yuswidjajanto Zaenuri menjelaskan bahwa penggunaan bahan bakar dengan oktan tinggi tidak direkomendasikan bagi mobil atau motor yang tak sesuai.

Prof. Yus menjelaskan biasanya fuel dilution terjadi jika menggunakan RON yang terlampau jauh di kompresi mesin rendah. Timing pengapian tidak tepat sehingga proses pembakaran tidak sempurna.

Masalah fuel delution disebabkan lantaran sisa BBM yang tidak terbakar, maka dari itu dianjurkan untuk menggunakan BBM yang dianjurkan oleh pabrikan.

"Itu (fuel dilution) kan kalau loncatnya terlalu jauh, jadi misalnya seharusnya RON 91, terus naik ke RON 98, karena berpikir RON lebih tinggi jadi lebih bagus. Baik mobil maupun motor sekarang ECU, itu dia bisa menggeser timing ignition-nya. Cuma tentu ada batasnya," jelas Tri saat dihubungi detikcom, Selasa (28/12/2021).

Dia kemudian mencontohkan seperti penggunaan pada sepeda motor. Jika biasanya menggunakan bensin RON seperti Premium dan Pertalite, lalu loncat ke RON 98 seperti Pertamax Turbo.

"Karena standarnya (emisi) 2003 misalnya sepeda motor, bahan bakar minimum 91, mungkin sama APM-nya diberi kelonggaran, bisa sampai dari 90 sampai ke 92. Lalu kemudian pakai RON 98 tidak bisa ngejar (kompresi dan timing ignition) karena terlalu tinggi tinggi oktannya," ujar dia.

Jika terjadi hal demikian maka sepeda motor akan mengalami masalah. Mulai dari tenaga yang loyo hingga memicu penumpukan deposit karbon atau kerak pada ruang bakar.

"Kalau seperti itu nanti yang terjadi dayanya kurang, merasa motornya nggak lari lelet, ngegasnya lebih banyak, akhirnya bahan bakarnya malah boros," jelasnya.

Yannes menambahkan dampak dari pembakaran yang tidak sempurna akibat kurangnya kompresi yang dibutuhkan untuk pembakaran ideal maka mesin akan ngelitik akibat terjadi detonasi, tidak bertenaga dan akan mengalami overheating.

"Ini dilemanya, spesifikasi RON yang lebih tinggi menuntut kemampuan dan teknologi pembakaran (combustion) pada mesin yang dapat menahan kompresi tinggi. Jika BBM beroktan tinggi dipergunakan pada kendaraan dengan mesin dan sistem pembakaran berteknologi kuno misalnya karburator, dan kompresi mesin yang rendah- antara 7:1 hingga 9:1 dengan kebutuhan BBM oktan rendah, maka pembakaran di dalam mesin tidak akan sempurna, akan terjadi banyak zat yang tidak terbakar," jelas dia.

Halaman selanjutnya: standar emisi sepeda motor di Indonesia sudah Euro3, biasa pakai premium dan Pertalite lalu pindah ke Pertamax, aman dari Fuel Dilution?