Razia Knalpot Bising di Malaysia, Motor Polisi Juga Diciduk

Ridwan Arifin - detikOto
Jumat, 19 Mar 2021 20:35 WIB
Penjual knalpot dan aksesori modifikasi sepeda motor melayani calon pembeli di kawasan Kampung Melayu, Jakarta, Jumat (19/3/2021). Maraknya razia knalpot racing atau bising oleh pihak kepolisian berdampak pada turunnya penjualan knalpot aftermarket (suku cadang pengganti yang dibuat oleh perusahaan selain produsen asli kendaraan) yang memiliki suara bising. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Ilustrasi knalpot bising Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Belakangan ini polisi menggelar razia intensif bagi motor berknalpot bising di Indonesia. Tapi di Malaysia, razia juga menyasar kendaraan milik anggota polisi.

"Tujuan utama dari pemeriksaan mendadak ini untuk memastikan anggota polisi mematuhi hukum dan aturan jalan, menunjukkan contoh kepada publik," menurut Departemen Investigasi dan Penindakan Lalu Lintas (JSPT) seperti dikutip Paultan, Jumat (19/3/2021).

Pemilik kendaraan di Malaysia yang diketahui telah memodifikasi knalpotnya sehingga mengakibatkan polusi suara akan menghadapi hukuman penjara hingga enam bulan dan denda hingga RM 2.000 (sekitar Rp 7 juta). Pengguna akan dilarang menggunakan sepeda motor yang terlibat sampai knalpotnya dikembalikan ke keadaan semula, sesuai standar.

Aparat penegak hukum melakukan tiga pengukuran suara pada RPM yang berbeda-beda, dan mengambil rata-rata tiga pengukuran tersebut. Jika melebihi 95dB, knalpot akan segera diterbitkan berdasarkan Peraturan Kualitas Lingkungan (Kebisingan Kendaraan Bermotor) tahun 1987.

Operasi dilakukan oleh Departemen Investigasi dan Penegakan Lalu Lintas (JSPT) terhadap anggota yang keluar dari markas polisi di Bukit Aman, Kuala Lumpur.

Selama operasi, 280 kendaraan diperiksa, mendapati 146 surat tilang seperti pelanggaran kelengkapan berkendara seperti pelat nomor, tidak ada kaca spion, tidak ada pajak jalan dan modifikasi knalpot.

Mengganti knalpot standar dengan produk aftermarket alias racing tidak bisa sembarangan. Sebab di Indonesia juga punya ambang batas suara. Hal itu merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 7 tahun 2009 tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe Baru.

Dalam aturan itu tertulis bahwa batas ambang kebisingan sepeda motor terdiri atas, untuk tipe 80 cc ke bawah maksimal 85 desibel (db). Lalu, tipe 80-175cc maksimal 90 db dan 175cc ke atas maksimal 90 db.

Jika melebihi ambang batas itu pengendara bisa dianggap melanggar karena knalpot dianggap tak laik jalan sesuai dengan UU no.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 285.

"Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor di Jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)," begitu bunyi aturannya.



Simak Video "Knalpot Bising Dirazia, Produsen Knalpot di Jabar Menjerit"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)