Salah satu fitur canggihnya adalah fitur yang dapat mengatur ojek terbang hanya dengan suara.
"Namanya voice recoge nize (VRN). Sistem ini jadi, tujuannya adalah untuk mengontrol mekanikal, yang dapat digerakan dengan suara," ujar Dicky kepada detikOto, di Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (5/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah nantinya dapat diprogram. Contohnya apabila kita ingin take off, kita cukup bilang 'take off' lewat microphone, dan semua baling-baling akan otomatis hidup dengan sendirinya, kita cuma harus menambahkan program itu saja," katanya.
Selain itu, inovasi drone pengangkut pertama di Indonesia tersebut, juga mengusung dua cara pengendalian, yaitu manual dan otonom atau dikontrol tanpa ada pengemudi.
"Jarak kontrol sekitar 5 sampai 25 km. Namun yang baik adalah dikemudikan sendiri apabila berpenumpang (manual)," ucap Dicky.
Cara manual yang dikatakan Dicky lebih efektif pada saat ada penumpang di dalamnya, karena dengan cara manual tidak ada jeda waktu, dan mengurangi gangguan saat proses penerbangan.
"Karena apabila dikemudikan sendiri, dia (ojek terbang) tidak memiliki sinyal transmisi dari radio ke receiver yang ada di modul-nya. kalau ada transmisi itu artinya ada jeda waktu, ada delay, kalau menggunakan kontrol manual, tidak ada delay dan gangguan sinyal luar," tuturnya.
Selain itu inovasi drone pengangkut ini diakui Dicky maih banyak kekurangannya. Untuk itu saat ini dirinya akan mencicil kekurangan tersebut, mulai dari memperbaiki kestabilannya.
"Untuk parameter kestabilan itu yang paling penting. Kemudian untuk kemudinya. Jadi dari stabil mudah untuk mengemudiakannya, serta tidak mudah terinterfensi dengan gangguan sinyal," ungkapnya.
Sedangkan alasan Dicky memberikan nama ojek terbang pada inovasi drone pengangkut yang dikembangkannya adalah karena ukuran, serta isu ojek yang saat ini sedang ngetren Indonesia.
"Awalnya saya enggak ada kepikiran untuk menamai ojek terbang. Namun saya melihat dari beberapa perkembangan drone di negara-negara maju, yang dapat ditunggangi orang ini, menurut saya punya saya ini lebih simpel lebih kecil ukurannya, jadi lebih cocok untuk sepeda motor, dibandingkan dia dengan taksi atau lainnya. Juga seiring isu-isu mengenai ojek di Indonesia saat ini. Jadi pas gitu," pungkasnya.
(khi/lth)












































Komentar Terbanyak
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif