Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubisidi ternyata berimbas ke minat sepeda motor listrik. Salah satunya dirasakan merek dalam negeri, Alva.
"Kalau kita di Alva yang kita juga rasakan adalah sejak awal Januari Q1 (kuartal pertama) gitu kan ya. Sekarang udah mau masuk ke kuartal dua memang pertanyaan terhadap motor listrik itu meningkat," kata Putu Swaditya Yudha, Chief Marketing Officer Alva saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026).
Pria yang disapa Adit ini mengungkap lonjakan harga BBM memantik rasa penasaran konsumen yang mulai mempertimbangkan motor listrik demi efisiensi biaya operasional sehari-hari. Meski demikian, beberapa pertanyaan klasik dari calon konsumen masih sering muncul, seperti lokasi pengisian daya, keamanan saat hujan, garansi baterai, jarak tempuh, kemampuan menanjak, dan saat berboncengan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi memang banyak konsumen, calon konsumen yang memang menanyakan. Pertanyaan masih sama nih by the way, ngecasnya di mana gitu ya. Kalau hujan konslet apa enggak, kemudian garansi baterai seperti apa, jarak tempuhnya, ini kalau dipakai goncengan berdua ini bisa nanjak apa enggak," kata Adit.
"Ini pertanyaannya masih sama, cuman sekarang ada satu pertanyaan lagi atau sebuah insight adalah, wah dengan kenaikan harga BBM ternyata ini gimana ya kalau pakai motor listrik, apakah lebih hemat secara operasional atau enggak. Jadi ini pertanyaan-pertanyaan yang kita temui lah di tahun 2026 ini. Nah kalau dari sisi Alva, yang kita lakukan jadi banyak hal yang berhubungan dengan ekosistem," kata Adit.
Lebih lanjut dia mengatakan Alva mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 52,9% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Perlu diketahui, motor listrik tidak mendapatkan subsidi pada 2025.
Bahkan masuk ke pertengahan tahun 2026, tren permintaan diproyeksikan akan jauh lebih tinggi melampaui pencapaian tahun lalu.
"Jadi antara 2024 ke 2025 kita tumbuh 52 persen. Angka 3.000 ke 4.500 unit," ungkap Adit.
"Jadi lesson learned buat kita adalah dengan edukasi yang konsisten, lalu dengan produk yang memang tepat, jaringan after sales," kata Adit.
"Demand-nya terjadi, bahkan 2025 bisa menjual lebih banyak tanpa adanya insentif," jelasnya lagi.
Lonjakan biaya BBM non-subsidi memaksa konsumen menghitung ulang biaya operasional. Alva membaca pola konsumen yang sudah merasakan hemat dan tangguhnya motor ini mulai merekomendasikan secara organik ke lingkaran terdekat.
"Kita bacanya konsumen yang sudah beli akhirnya merasakan manfaatnya, yang akhirnya mereka memberitahukan kepada orang-orang di sekitar mereka, ada pilihan lain kalau misalnya mau mencari kendaraan utama untuk sehari-hari," ucap Adit.
Pada akhir tahun 2025, Alva memiliki 180 konektor di 150 lokasi. Hanya dalam waktu 6 bulan (hingga Juni 2026), jumlahnya melonjak drastis menjadi 355 konektor di 170 lokasi. Tim Alva rata-rata memasang 1 konektor baru setiap harinya selama tahun 2026.
Secara pemetaan geografis, jaringan pengisian daya Alva kini diklaim sebagai yang terbesar untuk roda dua di Indonesia. Koridor utama Jawa-Bali sudah sepenuhnya terhubung, seperti rute Jakarta-Bandung via Puncak, jalur lingkar Jawa Tengah (Semarang-Salatiga-Solo-Jogja), hingga area Surabaya-Gresik-Malang.
Ekspansi juga sudah merambah ke luar Pulau Jawa, meliputi Medan, Palembang, Kalimantan Timur, dan dalam waktu dekat akan segera menyasar Makassar.
"2026 ini mungkin bocorannya adalah demand-nya naik,mungkin akan lebih dibandingkan tahun 2025 gitu ya," ungkap Adit.












































Komentar Terbanyak
Pemerintah Ancam Cabut Izin Gojek-Grab Andai Tak Patuhi Komisi 8%
Viral Pengemudi Calya Ngamuk, Patahkan Spion-Wiper Mini Cooper
Pemilik Kendaraan yang Belum Bayar Pajak Didatangi Petugas Samsat