Jarang ada anak muda yang mau direpotkan dengan mobil klasik, apalagi untuk membuka bengkel khusus mobil klasik. Salah satu dari segelintir anak muda itu adalah Firmansyah Mahidin Putra.
Firman sendiri mulai kecanduan dengan mobil jadul sejak dirinya pertama kali mencoba mengendarai mobil klasik milik temannya semasa Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Sebenarnya basic-nya dulu gak suka mobil klasik, menurut gue ngeribetin segala macam, pas nyobain mobil temen eh ternyata enak juga, empuk segala macem. Akhirnya mikir jadi kepengen, nyobain satu, ngebangun, restorasi. Akhirnya gue ketagihan, dari satu nambah lagi, nambah lagi," ujar suami dari personel band Kotak Chua itu saat berbincang dengan detikOto, di bengkelnya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Firmansyah (berbaju biru) ngobrol dengan para pekerja di bengkelnya. Foto: Khairul Imam Ghozali |
Dari hobi mobil klasik itu, Firmansyah memberanikan diri membuka usaha bengkel Fix Garage, bengkel yang dibangun untuk memuaskan hobinya membongkar mobil klasik. Bengkel restorasi mobil klasik, yang dimiliki oleh Firmansyah tersebut, awalnya dibuat karena dirinya masih kurang puas dengan hasil yang didapat pada mobil klasiknya.
"Karena gue perfeksionis sama kendaraan klasik, kurang puas dengan hasilnya akhirnya punya bengkel sendiri, supaya apa yang gue mau bisa gue wujudkan," ujarnya.
Pekerja bengkel Fix Garage tengah merestorasi mobil klasik Foto: Khairul Imam Ghozali |
Pria yang sudah berkecimpung di dunia mobil klasik sekitar 10 tahun ini, pada tahun 2014 akhirnya memutuskan untuk menerima pesanan orang lain.
"Dulu aku memang terlalu tertutup. Akhirnya makin ke sini, juga yang bekerja di bengkel pada jenuh bangun mobil, mobilnya mirip terus-terusan, akhirnya restorasi ataupun repaint mobil orang lain kita terima. Bukan cuma mobil klasik, mobil baru juga ada kadang-kadang yang datang, gue terima," ungkap Firman.
Foto: Khairul Imam Ghozali |
Total kini ada 14 mobil klasik yang dimiliki Firman. Namun mobil yang paling dia sukai adalah Holden tahun 1979. "Itu penuh perjuangan, karena (dulu) kalau mau beli, harus beli dua. Akirnya beli dua-duanya. Restorasinya 2 tahun lah, itu juga pas momen, anak gue lahir. Jadi ada dua kebahagiaan," ujarnya. (khi/ddn)












































Firmansyah (berbaju biru) ngobrol dengan para pekerja di bengkelnya. Foto: Khairul Imam Ghozali
Pekerja bengkel Fix Garage tengah merestorasi mobil klasik Foto: Khairul Imam Ghozali
Foto: Khairul Imam Ghozali
Komentar Terbanyak
Ribuan Pikap India buat Kopdes Merah Putih Telanjur Masuk Indonesia
Konversi 120 Juta Motor Bensin ke Listrik Terancam Gagal, Cuma Jadi Ilusi
Mobil Pribadi Isi Pertalite Dibatasi, per Hari Maksimal Rp 500 Ribu