ADVERTISEMENT

Geger, Seorang Remaja Retas 25 Mobil Tesla dari Jarak Jauh

Ridwan Arifin - detikOto
Kamis, 13 Jan 2022 16:55 WIB
CORTE MADERA, CA - AUGUST 02:  The Tesla logo appears on a brand new Tesla Model S on August 2, 2017 in Corte Madera, California. Tesla will report second-quarter earnings today after the closing bell.  (Photo by Justin Sullivan/Getty Images)
Logo Tesla Foto: Justin Sullivan/Getty Images
Jakarta -

David Colombo, remaja berusia 19 tahun mengklaim telah meretas dari jarak jauh sebanyak 25 mobil Tesla di 13 negara.

Dikutip dari Autonews, Kamis (13/1/2022), David Colombo merupakan spesialis teknologi informasi telah menemukan kelemahan perangkat lunak dalam Tesla. Dia mengungkapkan hal ini dalam akun Twitter pribadinya.

Dia bilang celah keamanan pada perangkat lunak milik Tesla memungkinkan dirinya untuk bisa kontrol dari jarak jauh seperti membuka kunci pintu dan jendela, menyalakan mobil tanpa kunci, menyetel musik, serta menonaktifkan sistem keamanan mobil.

"Saya pikir itu cukup berbahaya jika seseorang dapat memutar musik dari jarak jauh dengan volume penuh atau membuka jendela/pintu saat Anda berada di jalan raya," cuit dia.

Remaja ini tidak merinci kerentanan apa yang dialami dalam software Tesla. Tapi dia mengatakan hanya sebagian kecil pemilik Tesla saja yang bisa diretas. Cuitannya mendapat respon yang kuat, dengan lebih dari 800 retweet.

Saat dikonfirmasi melalui direct message, Colombo tidak menjawab. Sementara pihak Tesla juga belum mau angkat bicara terkait dugaan kerentanan sistem dalam masalah ini.

Namun Colombo bilang kepada DailyMail bahwa celah keamanan yang terjadi bukan dari infrastruktur Tesla, tetapi memang disebabkan oleh pemilik Tesla dan pihak ketiga.

Di sisi lain, Colombo mengklaim sudah dihubungi oleh pihak keamanan Tesla. Dia mengatakan tim sedang menyelidiki masalah tersebut.

"Saya sudah berbicara dengan Tim Keamanan Produk Tesla serta pengelola pihak ketiga untuk mengoordinasikan pengungkapan dan membuat pemilik yang terpengaruh diberitahukan tentang mitigasi untuk kerentanan," kata dia.

Menurut salah satu laporan yang disebutkan AutoNews, Tesla yang berbasis di Amerika Serikat memang memiliki platform untuk mengungkap kerentanan dari ancaman peretasan. Namun ini hanya ditujukan pada insinyur dan peneliti Tesla dengan mendaftarkan kendaraannya di platform tersebut. Perusahaan bahkan membayar hingga US$ 15.000 (sekitar Rp 214 jutaan) jika ditemukan celah peretasan.



Simak Video "Bukan Lagi Tesla, Ini Raja Mobil Listrik Dunia!"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/lth)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT