Rabu, 18 Nov 2020 16:14 WIB

Penjualan Mobil Masih Seret, Target 525 Ribu Bisa Tercapai?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Penjualan Domestik Kendaraan Komersial Naik

Sejumlah mobil terparkir di Car Port Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (12/3/2018). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan bahwa penjualan domestik kendaraan komersial sampai pada 2017, 235.307 unit terbagi di antaranya truk naik 45%, pickup naik 6 persen, dan double cabin naik 46 persen. Grandyos Zafna/detikcom Penjualan mobil. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Penjualan mobil di Indonesia belum sepenuhnya pulih menyamai sebelum pandemi COVID-19. Dua bulan terakhir ini, penjualan mobil kurang dari 50.000 unit. Padahal, saat normal, Indonesia bisa menjual mobil sebanyak 90.000 unit per bulan.

Karena penjualan mobil masih anjlok, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pun kembali merevisi target. Sebelumnya, saat awal pandemi dulu, Gaikindo mematok target penjualan sebanyak 600.000 unit, kini turun menjadi 525 unit.

"Kalau 525 ribu kan kami sudah menurunkan 75 ribu dari 600.000. Kalau sekarang kita lihat pencapaian sampai oktober kan 421 ribu ya, hampir 422 ribu. Masih ada 100.000 to go. Jadi mudah-mudahan dalam November-Desember angkanya 50 ribu, 51 ribu atau 52 ribu kan bisa tercapai," kata Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi, kepada detikOto, Rabu (18/11/2020).

Nangoi masih berharap penjualan mobil tahun ini mencapai target sebanyak 525 ribu unit. Namun menurutnya, penjualan mobil di beberapa bulan terakhir ini stagnan.

"Kenyataannya dia menjadi stagnan di angka sekitar 48.000, 49.000, 50.000 itu menjadi stagnan. Dia nggak bisa kembali lagi di angka yang 90.000 itu. Jadi kala saya lihat, memang ekonominya masih belum pulih," ujar Nangoi.

"Saya sedang mencoba nge-track sampai dengan November, apakah ada loncatan drastis nggak penjualan. Yang saya tangkap sekarang ya masih begini-begini aja, nggak ada lompatan drastis," sebutnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi penjualan mobil anjlok drastis tahun ini. Sebab, industri otomotif bergantung pada sektor lainnya seperti komoditas, infrastruktur dan pariwisata.

"Contohnya Bali misalnya, yang biasanya penjualan bus tinggi di sana sekarang berhenti. Turis nggak ada. Komoditas, kalau kelapa sawit, batu bara melemah ya kita juga melemah," ujarnya.



Simak Video "Membeludak! Dibuka Perdana, GIIAS 2019 Diserbu Pengunjung"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com