Aduh, Industri Kecil Otomotif Jepang Terancam Gulung Tikar

Aduh, Industri Kecil Otomotif Jepang Terancam Gulung Tikar

Muhammad Idris - detikOto
Selasa, 09 Jan 2018 14:47 WIB
Aduh, Industri Kecil Otomotif Jepang Terancam Gulung Tikar
Ilustrasi pabrik Toyota di Jepang Foto: M Luthfi Andika
Tokyo - Industri otomotif Jepang menghadapi permasalahan baru yang bisa berimbas serius pada masa depan bisnis mereka. Ini lantaran ancaman lesunya industri kecil dan menengah pemasok sejumlah komponen ke pabrikan besar.

Melansir laporan Nikkei, Selasa (9/1/2018), para pemilik industri pemasok komponen skala UKM banyak yang sudah memasuki masa tua. Masalahnya, banyak penerus mereka enggan meneruskan usahanya atau beralih ke bisnis lainnya.

Sebagaimana diketahui, industri otomotif Jepang sangat ditunjang oleh UKM-UKM yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok tak terpisahkan hingga ke raksasa-raksasa otomotif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kepala pemasok menjadi tua dan kurang motivasi lagi. Ini mempengaruhi kualitas produk," kata salah seorang sumber.

Kenyataan bahwa banyak UKM pemasok komponen yang memasuki masa senja lantaran memasuki masa tua. Ada 1,3 juta perusahaan skala kecil dan menengah yang berada dalam bahaya dan bisa gulung tikar pada tahun 2025.

Dimana pada tahun tersebut, pemilik industri pemasok akan berusia setidaknya 70 tahun. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang mengestimasi 1,27 juta owner UKM pemasok belum memiliki penerusnya.

Namun begitu, tak berarti semua perusahaan UKM tersebut punya masalah dalam suksesi kepemilikannya. Survei pada Oktober lalu oleh Tiekoku Databank, memperlihatkan hanya 13,6% dari sekitar 10.000 perusahaan yang memandang sukses penerus jadi prioritas utama.

"Banyak pembuat suku cadang didirikan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Periode dimana otomotif domestik tumbuh pesat. Ini masa dimana sudah mendekati untuk meneruskan bisnis ke yang lebih muda. Ini masalah serius," jelas Profesor Universitas Hyogo Tadashi Nishioka.

Salah seorang mantan direktur utama perusahaan komponen yang memiliki sekitar 100 karyawan di Nagoya, mengatakan dirinya sampai saat ini kesulitan mencari penerusnya.

"Saya menangani banyak tugas yang berbeda oleh saya sendiri. Jika saya jatuh sakit, pasti akan ada masalah serius," kata mantan dirut yang saat ini berusia 70 tahun tersebut.

Sekitar 3 tahun lalu, dirinya mulai mencari pengganti, tetapi semua kerabatnya menolak. Dia beranggap belum ada orang di dalam perusahaan yang layak menggantikannya.

"Saya pikir untuk meminta perusahaan rekanan untuk mengirimkan pengganti. Tetapi saya khawatir hal itu bisa merusak hubungan dengan perusahaan lain," tuturnya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil langkah merger dengan perusahaan rekanannya lantaran belum juga memiliki penggantinya. (idr/lth)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads