βMelihat pengalaman sebelum-sebelumnya, penurunan permintaan itu terjadi jika pertumbuhan ekonomi juga turun. Nah apakah faktor daya beli atau daya beli masih kuat tapi konsumen wait and see, itu yang kami pelajari,β tutur Ketua IV Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Rizwan Alamsjah saat dihubungi detikOto, di Jakarta, Senin (17/3/2015).
Ada beberapa penyebab mengapa konsumen bersikap menunggu. Pertama, saat ini inflasi masih cukup tinggi akibat beberapa kenaikan harga, antara lain tarif listrik, bahan bakar, hingga kebutuhan pangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus melemah. Sehingga, ada anggapan harga mobil juga terkerek, meski kalangan pemegang merek tak menaikkannya.
Penjualan sepanjang dua pertama tahun ini juga jauh lebih kecil dibanding periode yang sama 2014. Saat itu, pada Januari, penjualan tercatat sebanyak 103.609 unit dan Februari sebanyak 111.824 unit.
Namun untuk penjualan tahun ini, Rizwan tidak berani memastikan apakah kondisi akan membaik pada kuartal kedua atau ketiga . βKita pelajari dulu, seperti apa tren pada bulan pertama kuartal dua nanti,β ucapnya.
GM Marketing Strategy & Produc Planning Nissan Motor Indonesia, Budi Nur Mukmin menambahkan pasar mobil anjlok karena masyarakat tidak memiliki keyakinan untuk melakukan transaksi pembelian mobil.
βJadi selama kondisi makroekonomi tidak membaik maka costumer tidak akan beli. Kapan kondisi ekonomi akan membaik? Itu pertanyaan kita bersama saya rasa,β ujarnya.
(arf/ddn)












































Komentar Terbanyak
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
Presiden Prabowo: RI Jangan Cuma Jadi Pasar, Harus Bikin Mobil-Motor Sendiri
BYD Luncurkan Denza N9 Flash Charge: Jarak Tempuh 1.520 Km, Ngecas Cuma 9 Menit