Praktis, seperti dilansir CNN, Jumat (6/2/2015), penarikan mobil secara besar-besaran itu juga menyebabkan tergerusnya laba usaha pabrikan. Laba perusahaan turun menjadi hanya US$ 6,5 juta atau sekitar Rp 79,95 miliar.
Biaya super besar yang harus dikeluarkan pabrikan asal Detroit, Amerika Serikat, itu digunakan untuk ongkos perbaikan mobil yang ditarik, membayar ganti rugi kepada korban, dan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cacat produksi ini telah menyebabkan 5 orang meninggal dunia. Total kompensasi kepada korban yang disiapkan GM mencapai US$ 400 juta. Sedangkan GM pun harus mencadangkan lagi US$ 874 juta untuk mengatasi recall di masa depan.
Pembayaran ganti rugi, ongkos perbaikan mobil, dan biaya lain-lain itu diurus GM pada awal tahun 2014. GM beruntung di akhir tahun, karena pada kuartal keempat, laba usaha pabrikan ini naik 27 persen.
GM juga memastikan, meski harus menggelontorkan dana yang tak kecil akibat penarikan mobil secara besar-besaran namun pembayaran dividen 2014 kepada masing-masing pemegang saham tak mengalami hambatan. Hal ini pun mendongkrak kinerja saham.
Sementara meski pendapatan menurun, pembayaran sisa hasil usaha kepada karyawan malah naik menjadi US$ 9.000 atau sekitar Rp 110,7 juta, dari tahun sebelumnya yang hanya US$ 7.500 atau Rp 92,25 juta.
βHasil yang bagus di kuartal keempat, membantu kami mencapai hasil yang baik di tahun 2014, meski kami mendapatkan tantangan berat,β ujar CEO GM Mary Barra.
(arf/ddn)












































Komentar Terbanyak
Hitung-hitungan Penghasilan Ojol Usai Tarif Aplikasi Dipangkas
Indonesia Kian Tertinggal, Mobnas Malaysia Ekspansi EV 42 Ribu Unit/Tahun
Masa Keemasan Mobil China Disebut Bakal Berakhir