Masalah terkait Hyundai dan KIA timbul beberapa waktu lalu ketika Hyundai dan KIA menggunakan sebuah klaim efisiensi bahan bakar untuk mendongkrak penjualan mereka di Amerika, tapi setelah di tes oleh sebuah lembaga, klaim tersebut ternyata tidak bisa dicapai. Al hasil, Hyundai dan KIA pun dianggap telah melakukan kebohongan.
Kini, ada 23 penggugat yang menggugat kedua merek tersebut di pengadilan distrik di Los Angeles. Para penggugat itu menuntut Hyundai dan KIA untuk membayar kompensasi ganti rugi hingga US$ 775 juta atau sekitar Rp 7,44 triliun.
"Penggugat dan masyarakat telah dirusak oleh kekeliruan, penyembunyian dan tidak pengungkapan angka efisiensi bahan bakar yang salah dari Hyundai dan KIA karena mereka disesatkan ke dalam pembelian Hyundai dan KIA dengan kualitas yang berbeda dari yang mereka janjikan dan membayar biaya bahan bakar yang lebih tinggi," tulis mereka dalam gugatan seperti dilansir autonews, Jumat (9/11/2012).
Sebelum gugatan ini dilayangkan, Hyundai dan KIA sebenarnya sudah meminta maaf karena angka klaim mereka berbeda dengan hasil pengetesan dan mereka pun sudah menurunkan angka klaim efisiensi bahan bakar mobil yang dijual.
Tapi menurut aturan, Hyundai dan KIA dianggap telah melanggar persaingan yang sehat dan hukum konsumen serta terlibat dalam penipuan dan iklan palsu.
Sebenarnya para penggugat hendak menggugat keduanya dengan angka US$ 907 juta (Rp 8,7 triliun), tapi setelah dihitung antara kilometer yang ditempuh dikombinasi dengan bahan bakar yang dikeluarkan, harga mobil dan biaya 'ketidaknyamanan', maka hanya keluar angka US$ 775 juta (Rp 7,44 triliun).
Selain di Los Angeles, gugatan juga datang dari Ohio atas nama tiga penggugat. Seorang juru bicara Hyundai mengatakan pembuat mobil Korea itu tidak mengomentari litigasi yang sedang berlangsung.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
2 Pabrik Otomotif Jepang di RI Cabut ke Vietnam, Ribuan Pegawai Kena PHK
2 Pabrik Otomotif Jepang di RI Mau Cabut ke Vietnam, Ini Alasannya
Indonesia Ditinggal Kabur Pabrik Otomotif, Pemerintah Harus Ambil Sikap!