Indonesia Ditinggal Kabur Pabrik Otomotif, Pemerintah Harus Ambil Sikap!

Indonesia Ditinggal Kabur Pabrik Otomotif, Pemerintah Harus Ambil Sikap!

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Selasa, 23 Jun 2026 11:15 WIB
Ilustrasi pabrik otomotif. Foto: REUTERS/Karen Toro
Ilustrasi pabrik otomotif. Foto: REUTERS/Karen Toro
Jakarta -

Kabar relokasi dua pabrik otomotif Jepang dari Jawa Timur ke Vietnam harus disikapi pemerintah dengan sungguh-sungguh. Sebab, jika tidak, bukan mustahil kejadian yang sama terulang lagi di masa depan.

Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu mengatakan, industri otomotif global sudah mulai bergeser dari konvensional ke elektrifikasi. Itulah mengapa, pemerintah diminta melakukan penguatan penuh di sektor tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keputusan dua pabrik otomotif Jepang pindah ke Vietnam bukannya tanpa alasan. Kabarnya, mereka melihat industri kendaraan listrik di Negeri Bintang Jingga jauh lebih mapan dan produktif dibandingkan Indonesia. Kedua pabrik tersebut sama-sama memproduksi komponen kendaraan bermotor.

"Untuk mencegah industri otomotif semakin banyak yang hengkang ke depan, pemerintah perlu mempercepat penyempurnaan arah kebijakan dan insentif EV yang konsisten, kompetitif terkait penguatan ekosistem komponen dalam negeri, serta meningkatkan komunikasi langsung dengan prinsipal," ujar Yannes kepada detikOto, Selasa (23/6).

ADVERTISEMENT

"Selain itu, program reskilling tenaga kerja untuk teknologi EV juga penting agar Indonesia tetap menjadi lokasi produksi yang menarik di kawasan ASEAN," tambahnya.

Yannes secara tak langsung menegaskan, perpindahan lokasi pabrik merupakan strategi global yang kerap diambil perusahaan dalam menyongsong transisi bisnis. Kedua pabrik otomotif tersebut, kata dia, mau mencari lokasi baru yang kebijakan pemerintahnya dianggap lebih berpihak ke investasi komponen EV.

Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal mengumumkan, akan ada dua pabrik komponen otomotif di Jawa Timur yang bakal pindah ke Vietnam. Keduanya sama-sama memiliki induk perusahaan yang berasal dari Jepang.

Menurut Iqbal, kepindahan pabrik tersebut membuat ribuan pegawai akan terdampak pemutusan hubungan kerja alias PHK. Sayangnya, dia belum bisa mengungkap, apa nama dua perusahaan otomotif tersebut.

"Di daerah Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, ada dua perusahaan, saya belum bisa sebut nama perusahaannya. Dua perusahaan raksasa komponen otomotif. Itu bisa ribuan karyawannya akan terdampak PHK," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers, dikutip dari detikFinance.

Iqbal membocorkan, dua perusahaan tersebut memiliki inisial J dan S. Keduanya memilih cabut ke Vietnam untuk mengembangkan kendaraan listrik. Bagi mereka, Vietnam lebih produktif ketimbang Indonesia.

"Jadi prinsipalnya di Jepang, akan memindahkan produksinya ke negara-negara yang lebih produktif dan mengubah diversifikasi produknya. Jadi mereka akan berfokus di mobil listrik yang pengembangannya dilakukan di Vietnam, bukan di Indonesia," tuturnya.

"Karena di Indonesia rupanya mobil listrik, pabrik mobil listrik tidak kompetitif. Tapi di Vietnam sedang ada kebijakan pengembangan pabrik mobil listrik. Nah, dua perusahaan komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto ini akan memindahkan sebagian. Ini baru diskusi awal. Informasi awal. Ini ribuan juga (yang bisa terkena (PHK)," kata dia menambahkan.



(sfn/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads