Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tak menampik banyak yang beralih menggunakan Pertalite padahal sebelumnya pakai BBM nonsubsidi. Namun Bahlil tidak mempermasalahkan hal itu.
Pengguna BBM Pertalite makin banyak. Terlebih setelah harga BBM nonsubsidi sekelas Pertamax cs naik signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap saat ini banyak masyarakat yang beralih menggunakan BBM Pertalite. Padahal sebelumnya banyak yang menggunakan BBM nonsubsidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang terjadi sekarang itu kan adalah sebagian ada yang shifting sebenarnya dari yang tadinya tidak memakai subsidi, mereka beralih ke minyak subsidi, ya nggak apa-apa," ungkap Bahlil dalam video yang diunggah detikFinance.
Menurut Bahlil situasi tersebut membuat antrean beli Pertalite mengular, seperti yang terjadi di Makassar. Namun, dia memastikan bahwa saat ini cadangan nasional masih ada pada rentang 20-23 hari. Bahlil juga meminta kepada masyarakat yang mampu untuk tidak membeli BBM subsidi.
"Saya mengimbau kepada saudara-saudara kita yang mampu, yang apa ya mobilnya yang bagus ya kita harus pakai perasaan lah, masa kita harus ambil hak subsidi untuk saudara-saudara kita yang berhak," ujarnya.
Sebelumnya pada Juli 2026, Director of Regional Marketing at PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading Eko Ricky Susanto mengungkap konsumsi Pertalite naik. Naiknya konsumsi BBM RON 90 Pertamina itu tak lepas dari kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Green, dan beberapa jenis lainnya. Selisih harga Pertalite dengan Pertamax sangat kontras. Pertalite masih dijual seharga Rp 10.000 per liter, padahal nilai keekonomiannya jauh di atas itu. Sedangkan Pertamax, seliter saat ini dijual Rp 15.950 per liter. Tiap liternya beda Rp 5.950.
Konsumsi Pertamax merosot, sementara komposisi Pertalite justru naik menjadi 80,3 persen. Komposisi Pertamax per Juli itu menjadi 18,8 persen, Pertamax Green 0,2 persen, dan Pertamax Turbo 0,7 persen.










































