Produksi Mobil Toyota Kembali Normal Akhir Bulan

Produksi Mobil Toyota Kembali Normal Akhir Bulan

- detikOto
Jumat, 11 Nov 2011 15:43 WIB
Produksi Mobil Toyota Kembali Normal Akhir Bulan
Tokyo, Bandung - Raksasa mobil Jepang Toyota Motor optimistis produksi mobil mereka akan kembali pulih akhir bulan November ini. Banjir Thailand telah melumpuhkan produksi Toyota selama bulan Oktober sampai awal November.

Di Jepang sendiri, karena penyesuaian produksi, Toyota harus mendapati 40.000 unit mobilnya terganggu produksinya karena pengiriman suku cadang terhambat

"Kami akan bisa memulihkan operasi sampai 95 persen di Jepang antara 21 November sampai 25 November," tutur juru bicara Toyota seperti dilansir AFP, Jumat (11/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, Toyota akan memulai produksi Thailand pada 21 November mendatang. Pabrik Thailand berhenti berproduksi sejak 10 Oktober 2011.

Gara-gara penutupan pabrik Thailand itu, Toyota terpaksa menutup operasinya di Asia, Kanada, AS dan Afrika Selatan.

Sementara itu dari Bandung, PT Astra International Tbk sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi ancaman banjir 5 tahunan di Indonesia.

"Perubahan cuaca yang terjadi memang berarti untuk pemain-pemain industri. Kami (Astra International) juga secara perlahan telah memindahkan produksi ke Karawang, Jawa Barat. Dan mudah-mudahan Banjir Kanal Timur berfungsi dengan baik sehingga ini tidak akan terjadi," ujar Presdir PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto.

Namun Prijono pun mengatakan agar tidak terjadi banjir 5 tahunan di Indonesia harus didukung oleh kedisiplinan setiap element masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan.

"Selain itu kami (Astra International) juga selalu melakukan proyek Nusa 2 tiada hentinya bukan hanya di saat banjir lima tahunan. Meskipun kami masih sering menemukan sampah di sungai-sungai,"ujar Prijono.

Tidak berhenti sampai disitu, Prijono pun ikut meminta para vendor dan pemasok suku cadang untuk mempercepat produksi mereka.

"Dan kita pun telah belajar Jepang, akibat permintaan terlalu tinggi, maka kami meminta vendor-vendor dan suplier untuk melakukan produksi lebih cepat, tapi permintaan terus meninggi juga," tutup Prijono.

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads