Nggak Cuma Modal Otodidak, Mekanik Bus dan Truk Juga Perlu Sekolah

Nggak Cuma Modal Otodidak, Mekanik Bus dan Truk Juga Perlu Sekolah

Luthfi Anshori - detikOto
Selasa, 11 Agu 2026 19:20 WIB
Bus dan truk Hino sudah memenuhi standar emisi Euro4
Ilustrasi truk Hino. Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Menjadi mekanik atau pengemudi kendaraan niaga seperti bus dan truk ternyata tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman alias otodidak. Pengetahuan mengenai karakter kendaraan, prosedur perawatan, hingga cara mengoperasikan kendaraan sesuai standar juga penting untuk menjaga keselamatan.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti masih adanya mekanik dan pengemudi kendaraan niaga yang merasa sudah cukup paham hanya karena memiliki pengalaman panjang. Padahal, minimnya pengetahuan teknis dapat membuat perawatan maupun pengoperasian kendaraan tidak sesuai standar pabrikan.

Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan bahkan menyebut masih ada mekanik dan pengemudi kendaraan niaga yang bersikap seolah paling mengetahui kendaraan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mekanik dan pengemudi kita itu sok pintar, merasa sudah pandai, merasa sudah pengalaman. Padahal, kalau ada mekanik yang (ngaku) hafal workshop manual, oh saya jadi curiga. Karena orang pabrikan sendiri nggak mungkin hafal," kata Wildan di Jakarta, belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, mekanik yang memahami kendaraan dengan baik justru tidak akan mengandalkan hafalan ketika melakukan pekerjaan. Workshop manual harus tetap menjadi rujukan karena setiap kendaraan memiliki prosedur penanganan yang harus diikuti.

"Untuk mengerjakan sesuatu, harus membuka workshop manual, itu memang didesain nggak mungkin hafal," ujarnya.

Sekolah Vokasi untuk Menyediakan Mekanik Terdidik

Persoalan kompetensi tersebut menjadi semakin penting seiring perkembangan teknologi kendaraan niaga yang semakin kompleks. Karena itu, pendidikan vokasi menjadi salah satu cara untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan industri.

Seperti dikatakan, Sales & After Sales Director HMSI (Hino Motors Sales Indonesia) Susilo Darmawan, keterlibatan industri dalam pendidikan menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan.

"Bagi Hino, mendukung dunia pendidikan merupakan bagian dari kontribusi kami untuk Indonesia. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, kami ingin membantu mencetak lulusan yang siap bekerja dan menjawab kebutuhan industri," ujar Susilo di arena GIIAS 2026, ICE BSD City, Tangerang, belum lama ini.

Direktur SMK Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) Arie Wibowo Khurniawan juga menilai pendidikan vokasi perlu berjalan beriringan dengan perkembangan industri.

"Pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara sekolah dan dunia industri menjadi kunci agar lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi yang terus berubah," kata Arie dalam kesempatan yang sama.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut dilakukan melalui program Hino Indonesia Partnership School (HIPS), yang menghubungkan sekolah kejuruan dengan dunia industri melalui penyelarasan kurikulum, pelatihan guru, sertifikasi kompetensi, hingga praktik kerja industri.

Sementara bagi tenaga kerja yang sudah masuk industri, pelatihan juga tetap diperlukan. Hino Indonesia Academy dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi mekanik, pengemudi, dan tenaga profesional agar kemampuan mereka mengikuti perkembangan teknologi kendaraan niaga.

Pada akhirnya, kendaraan yang semakin canggih tetap membutuhkan sumber daya manusia yang memahami cara merawat dan mengoperasikannya. Pengalaman memang penting, tetapi tanpa pengetahuan dan prosedur yang benar, pengalaman justru bisa membuat seseorang merasa paling tahu dan mengabaikan standar keselamatan.



(lua/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads