BYD Respons Tudingan Bea Cukai Soal Kontainer Numpuk di Tanjung Priok

BYD Respons Tudingan Bea Cukai Soal Kontainer Numpuk di Tanjung Priok

Ridwan Arifin - detikOto
Sabtu, 20 Jun 2026 07:22 WIB
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Ekspor Impor, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (9/6/2026). Kesibukan pelabuhan mencerminkan peran penting perdagangan internasional dalam menopang perekonomian nasional.
Ilustrasi kontainer di Tanjung Priok Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

PT BYD Motors Indonesia buka suara soal tudingan menjadi salah satu biang kerok menumpuknya 10 ribu kontainer di Tanjung Priok, Jakarta Utara. BYD mengakui adanya penumpukan kontainer tapi bukan unsur kesengajaan.

"Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat situasi tersebut," kata Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan saat dihubungi detikOto, Jumat (19/6/2026).

Diberitakan detikcom sebelumnya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama menyebut 10 ribu kontainer sempat menumpuk di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pembiaran barang di pelabuhan itu di antaranya dilakukan oleh BYD dan Wuling. Perusahaan otomotif itu disebut memanfaatkan fasilitas pelabuhan untuk membiarkan barang yang diimpornya tidak segera keluar dari area pelabuhan selama 3 hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanpa menyebut angka, BYD menyebut volume kontainer milik pabrikan mobil listrik asal Tiongkok tersebut tidak sebanding dengan angka yang ramai diberitakan.

ADVERTISEMENT

"Dan setelah kami cek angkanya secara komprehensif, jumlah kontainer milik BYD adalah merupakan sebagian kecil dari total volume kontainer yang menjadi perhatian di pemberitaan," ucap Luther.

BYD menepis adanya unsur kesengajaan dalam menahan atau memperlambat proses pengeluaran kontainer dari area pelabuhan. Secara bisnis, membiarkan kontainer tertahan di pelabuhan justru merugikan perusahaan dari segi finansial.

"Kami ingin sampaikan bahwa tidak ada upaya kesengajaan untuk memperlambat proses, mengingat biaya penyimpanan dan tambahan penalti harian di Pelabuhan justru lebih besar dibandingkan biaya logistik dan penyimpanan baik milik sendiri atau temporary," ucap Luther.

BYD mengakui adanya penumpukan, namun hal tersebut dipengaruhi oleh dinamika logistik yang melibatkan banyak faktor.

"Kami akui penumpukan yang terjadi merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor operasional dan logistik yang melibatkan banyak pihak, termasuk tingginya volume kedatangan barang dalam periode bersamaan secara reguler setiap minggu, adanya sejumlah hari libur nasional, kepadatan lalu lintas distribusi, serta penyesuaian kapasitas pengangkutan perusahaan logistik atas dampak kenaikan BBM," jelas Luther.

BYD Indonesia menyebut sudah berkoordinasi dengan seluruh pihak memastikan proses distribusi kontainer berjalan dengan baik. Selain menambah bala bantuan truk pengangkut untuk mempercepat distribusi, BYD juga menyiapkan strategi cadangan dengan menyewa lahan kosong di luar pelabuhan demi mengosongkan area penumpukan utama.

"Sejak awal Juni, berbagai langkah percepatan juga telah dilakukan dan sudah menunjukkan hasil yang positif," kata Luther.

"Saat ini, kami telah menambah armada logistik company dan juga mayoritas kontainer yang tiba pada periode sebelumnya telah dipindahkan," jelasnya lagi.

"Kita juga sudah menyiapkan tempat simpan sementara di sekitar pelabuhan untuk percepatan pengeluaran kontainer. Kami terus memantau realisasi pemindahan semoga dapat bisa terselesaikan dalam waktu dekat," ucap Luther.

Dia menegaskan deretan kontainer milik BYD yang berada di pelabuhan bukan berisi unit mobil utuh, melainkan logistik krusial untuk kebutuhan purnajual dan produksi lokal.

"Kontainer tersebut bukan berisikan mobil, melainkan komponen untuk proses perakitan dan spare parts," jelas Luther.



(riar/lth)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads