Pabrik Tak Kunjung Berdiri, BYD Terancam Sanksi di Turki

Pabrik Tak Kunjung Berdiri, BYD Terancam Sanksi di Turki

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Senin, 15 Jun 2026 11:20 WIB
Logo BYD
BYD. Foto: (Chelsea Olivia Daffa/detikcom)
Jakarta -

Turki mengancam BYD dengan sanksi pengembalian insentif pajak. Soalnya, pabrik BYD yang dijanjikan tidak kunjung berdiri.

Dilansir media lokal Turkish Minute yang mengutip Nikkei Asia, Turki telah menangguhkan pembebasan pajak impor untuk mobil-mobil BYD. Ini dilakukan karena keterlambatan investasi pabrik senilai US$ 1 miliar yang direncanakan.

Selain penangguhan pembebasan pajak, menurut pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Turki, BYD juga terancam harus mengembalikan insentif yang selama ini diterima jika gagal melaksanakan proyek pabrik di Turki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena tidak ada progress selama beberapa waktu, kami menangguhkan insentif yang telah digunakan perusahaan sejak awal tahun 2026," kata pejabat yang tidak disebutkan namanya kepada Nikkei Asia.

ADVERTISEMENT

"Perjanjian investasi dengan perusahaan, syarat, kewajiban, dan jaminannya masih berlaku,. Jika investasi tidak selesai, perusahaan wajib mengembalikan insentif, berdasarkan pengaturan hukum dan komitmen yang telah mereka buat," lanjutnya.

BYD menolak berkomentar saat dikonfirmasi Nikkei Asia tentang operasinya di Turki.

Laporan ini muncul hampir dua tahun setelah BYD dan pemerintah Turki menandatangani perjanjian pada Juli 2024. Saat itu, BYD berkomitmen untuk membangun pusat penelitian dan pengembangan serta pabrik di Manisa, sebuah provinsi di Turki barat.

Pabrik yang direncanakan tersebut diharapkan dapat memproduksi 150.000 kendaraan listrik per tahun. Rencananya pabrik itu mulai beroperasi pada akhir tahun 2026, dan mempekerjakan 5.000 orang. Namun, hingga kini belum ada kejelasan.

Karena komitmen itu, Pemerintah Turki telah memberikan BYD pengecualian pajak impor. Turki juga membebaskan distributornya dari persyaratan yang dikenakan pada produsen mobil lain untuk mengoperasikan 20 titik layanan perawatan dan perbaikan. Insentif tersebut ditawarkan karena Turki berupaya menarik investasi kendaraan listrik China dan memposisikan diri sebagai basis produksi untuk penjualan ke Eropa.

Namun, konstruksi pabrik di Manisa itu belum dimulai. Hal itu menimbulkan kekhawatiran pemerintah Turki dan memicu pertanyaan dari anggota parlemen oposisi.

Dikutip Reuters, Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li, mengatakan prioritas pertama perusahaan adalah pabriknya di Hungaria. Di sana, produksi diperkirakan akan dimulai pada kuartal terakhir tahun ini. Ia mengatakan prioritas kedua BYD adalah menemukan fasilitas produksi lain di Eropa. Sedangkan proyek di Turki ditunda, tanpa memberikan jangka waktu.




(rgr/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads