Naik Mobil Listrik Bikin Pusing dan Mual? Ini Penjelasannya

Naik Mobil Listrik Bikin Pusing dan Mual? Ini Penjelasannya

Tim detikoto - detikOto
Minggu, 22 Mar 2026 19:07 WIB
Pusing atau mual saat naik mobil listrik? Banyak orang di seluruh dunia mengalami fenomena yang sama, kok (Photo by Tobias SCHWARZ / AFP)
Foto: AFP/TOBIAS SCHWARZ
Jakarta -

Kamu merasa lebih mudah mual atau pusing saat awal-awal naik mobil listrik? Enggak usah heran, ini ternyata fenomena yang umum terjadi di seluruh dunia. Apa penyebabnya?

Ada fenomena menarik terjadi seiring meledaknya penjualan mobil listrik di seluruh dunia. Ternyata banyak orang yang merasa lebih mudah kena mabuk darat saat naik mobil listrik ketimbang ketika berada di dalam mobil bensin.

Kondisi tersebut bukan tanpa alasan. Malah ada penjelasan ilmiahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut seorang peneliti di Prancis, mudahnya orang kena mabuk darat di mobil listrik lebih karena faktor 'keterbiasaan'. Maksudnya, otak manusia perlu waktu agak lama untuk beradaptasi dengan pengalaman naik mobil listrik.

ADVERTISEMENT

Disebutkan pada banyak penelitian, otak tidak memiliki akurasi dalam memprediksi kekuatan gerakan/laju yang dihasilkan mobil listrik, dibanding saat naik mobil bensin.

"Rasa mual yang dirasakan saat naik mobil listrik datang dari kurangnya pengalaman sebelumnya (naik mobil listrik). (Ini terjadi karena) otak kurang akurat dalam memperkirakan gaya gerak dibanding pengalaman yang dipunya sebelumnya (saat naik mobil bensin)," papar William Emond, dari UniversitΓ© de Technologie de Belfort-MontbΓ©liard, Prancis.

Dikutip dari Guardian, penelitian juga menyebut jika seseorang sepanjang hidupnya naik mobil bensin, maka otaknya akan mengantisipasi pergerakan akselerasi berdasarkan suara derungan mesin yang semakin kencang. Semacam sebuah 'peringatan' bakal adanya perubahan kecepatan.

Sementara pada mobil listrik, derungan tersebut tidak ada.

Pada penelitian lain yang dilakukan pada 2024 juga ditemukan hubungan antara tingkat keparahan mabuk perjalanan dengan getaran kursi mobil listrik (yang nyaris tidak ada). Tahun 2020 juga ada penelitian yang menyebut hilangnya suara mesin pada mobil listrik membuat mabuk perjalanan lebih berpeluang besar terjadi.

"Jika kita terbiasa melakukan perjalanan dengan mobil non-EV, kita terbiasa memahami gerakan mobil berdasarkan sinyal-sinyal tertentu, misalnya deru mesin, getaran mesin, torsi, dan lain sebagainya. Tapi ketika melakukan perjalanan dengan mobil EV untuk kali pertama, itu akan menjadi sebuah lingkungan baru untuk otak, otak butuh adaptasi," lanjut Emond.

Teknologi lain yang membuat peluang mabuk darat makin besar adalah pengereman regeneratif. Regenerative braking ini membuat kendaraan melambat secara bertahap dan stabil, dalam jangka waktu yang relatif lebih lama, bukan secara cepat atau dalam periode singkat. Perlambatan frekuensi rendah seperti itu cenderung dikaitkan dengan tingkat mabuk perjalanan yang lebih tinggi.

Dijelaskan juga, mabuk perjalanan diperkirakan terjadi karena ada ketidaksesuaian antara berbagai sinyal sensorik yang diterima otak secara bersamaan tentang pergerakan tubuh. Hal ini bisa terjadi ketika telinga bagian dalam -- yang membantu mengontrol keseimbangan -- mata, dan tubuh mengirimkan informasi yang berbeda atau bertentangan ke otak.

Fenomena ini umumnya dialami oleh penumpang. Di sisi lain, sopir umumnya tidak mengalami hal ini karena otak berhasil sudah mengantisipasi pergerakan mobil. Tentu saja karena dia sendiri yang memegang kendali lambat dan cepatnya pergerakan mobil.




(din/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads