Kata Bos Transporter Usai Pakai B50: Masalah Nggak Ada, Cuma...

Kata Bos Transporter Usai Pakai B50: Masalah Nggak Ada, Cuma...

Ridwan Arifin - detikOto
Minggu, 09 Agu 2026 10:14 WIB
Sejumlah dispenser pengisian Biosolar B50 berjajar di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Program B50 yang mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar be
Biosolar B50 Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Biodiesel B50 sudah berjalan satu bulan. Salah satu pengusaha transporter tidak menemukan masalah pada kualitas bahan bakar, tapi menyinggung distribusi yang harus merata.

Direktur Utama PT Grahaprima Suksesmandiri Ronny Senjaya mengatakan lebih dari 2 ribu armada digunakan menenggak B50. Tidak ada masalah teknis ditemukan.

"Sebagai perusahaan angkutan darat yang mengoperasikan lebih dari 2.000 unit armada untuk rute Jabodetabek, Jawa, Sumatera hingga Sulawesi, kami merasakan dampak transisi ke B50 ini tidak begitu buruk, tidak ada kendala signifikan terhadap mesin," kata Ronny.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kuncinya ada pada edukasi dan pelatihan pencegahan yang rutin diberikan pihak ATPM kepada tim mekanik kami. Selama langkah antisipasinya dijalankan, operasional ribuan armada kami tetap aman dan lancar," tambah Ronny.

ADVERTISEMENT

Tapi dia menyoroti distribusi BBM yang belum merata, sehingga memicu antrean panjang saat pengisian bahan bakar. Antrean 30-60 menit di beberapa titik dapat menambah lead time (waktu tempuh) secara akumulatif. Keterlambatan pengiriman berisiko memicu denda dari konsumen yang menerapkan aturan waktu ketat.

Perusahaan mendukung program B50 sebagai langkah pemerintah menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

"Dari kami harapkan dari perusahaan transport, lebih ke pemerataan atau ketersediaan BBM, dan juga kualitas yang stabil dari sisi BBM tersebut," kata Ronny.

"Terutama dari sisi ketersediaan, karena kami sebagai perusahaan transport di perusahaan sangat mengandalkan BBM, 30 sampai 40 persen cost kami itu di BBM, jadi cukup signifikan," ungkap dia.

"BBM itu apabila ketersediaan yang tidak merata, itu akan mengakibatkan antrean pada saat pembelian. Setiap kali mengantre itu akan menambah waktu lead time kami."

"Ada beberapa konsumen menentukan lead time sangat ketat, jadi misalnya mereka sudah tentukan 8 jam. Apabila kita harus mengantre di suatu tempat setengah jam, atau 1 jam. Satu kali atau dua kali, itu kan bisa menambah satu jam atau dua jam dari sisi lead time kami," ucap Ronny

"Ada beberapa yang menerapkan denda ke kami. Tapi yang lebih penting adalah ketika lead time itu terpakai untuk mengantre. Secara emosional driver itu akan mengejar ketinggalan waktu tersebut. Nah, itu berkaitan dengan keselamatan dan safety dari driver tersebut," papar dia.

Mitsubishi Fuso menghadirkan ekosistem Mitsubishi Fuso Foto: Pradita Utama/detikFoto

Pabrikan sudah aktif ikut uji jalan

PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) melalui Mitsubishi Fuso mengonfirmasi komitmen dan partisipasi aktifnya dalam mendukung program bahan bakar B50 yang dicanangkan pemerintah. Kesiapan tersebut ditunjukkan lewat keterlibatan lini produk andalannya, Canter dan Fighter X, sejak tahap awal pengujian.

Sales and Marketing Director PT KTB, Aji Jaya, menjelaskan bahwa salah satu varian populernya, Mitsubishi Fuso Canter, telah dilibatkan langsung dalam uji jalan (road test) B50 sejauh 40.000 kilometer.

"Kami di industri otomotif berkomitmen penuh mendukung program pemerintah. Salah satu varian kami, Mitsubishi Fuso Canter, terlibat langsung dalam uji jalan B50 sejauh 40.000 kilometer dan hasilnya berjalan lancar tanpa dampak negatif signifikan pada kendaraan," ujar Aji Jaya.

Koordinator Pokja Pengujian Hilir Migas Kementerian ESDM, Cahyo Setyo Wibowo mengatakan bahwa proses pengujian teknis serta kesiapan infrastruktur pengujian B50 untuk kendaraan komersial telah melewati serangkaian uji coba cukup panjang. B50 tidak serta merta didistribusikan sebelum bahan bakar terbarukan ini benar-benar cocok untuk kendaraan masa kini.

"Kita tahu biodiesel ini diproduksi di dalam negeri, pabriknya di dalam negeri, tenaga di dalam negeri, distribusinya juga ada di dalam negeri. Itulah kelebihan dari penggunaan B50," kata Cahyo.

"Jadi sebenarnya B50 hari ini sudah sangat melewati perjalanan panjang. Jadi setiap penambahan persentase untuk dari mulai B2,5, B10, B20, B30, B40, sampai sekarang B50. Itu selalu diikuti dengan peningkatan juga dari sisi kualitas," jelas dia.



(riar/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads