Biar Enggak 'Mematikan' Lagi, Tol Cipali Harus Diapain?

ADVERTISEMENT

Biar Enggak 'Mematikan' Lagi, Tol Cipali Harus Diapain?

Dina Rayanti - detikOto
Senin, 05 Des 2022 08:54 WIB
Tiga Mobil Tabrakan di Tol Cipali
Ilustrasi kecelakaan di Tol Cipali. Foto: dok.PJR Cipali
Jakarta -

Fatalitas di Tol Cipali merupakan yang paling tinggi di dunia. Menurut hitung-hitungan fatalitas yang dilakukan Kementerian Perhubungan, dalam setiap km ada 1 korban jiwa di Tol Cipali. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) setidaknya mengungkap ada sejumlah faktor yang menyebabkan angka fatalitas di Tol Cipali tinggi.

Pertama adalah selisih kecepatan antara satu kendaraan dan kendaraan lainnya terlampau tinggi. Kendaraan pribadi misalnya bisa menempuh kecepatan hingga 150 km/jam sedangkan truk yang kelebihan muatan hanya sanggup memacu 40 km/jam. Selisih kecepatan antara keduanya mencapai 100 km/jam lebih.

Hal tersebut dinilai berbahaya karena melebihi rekomendasi selisih kecepatan maksimal yakni 30 km/jam dan membuat penurunan reaksi manusia.

Faktor lainnya adalah Cipali berada di titil lelah pengemudi dan memicu munculnya situasi microsleep. Dalam situasi itu, kewaspadaan pengendara dan waktu respons juga menurun. Untuk menghindari hal itu, KNKT telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi agar angka kecelakaan sekaligus fatalitas bisa ditekan.

Untuk mengatasi kelelahan pengemudi, pengelola jalan tol diminta untuk memperbanyak rest area yang bisa dimanfaatkan untuk beristirahat. Pengemudi juga diharapkan bisa mematuhi aturan batas kecepatan kendaraan. Untuk pengawasan, maka bisa dipasang kamera ETLE yang memantau kecepatan pengendara dan melakukan penilangan bila melebihi batas. Ketiga adalah mengatur pengoperasian kendaraan barang di tol.

"Mengurangi kecepatan kendaraan pribadi melalui chevron reducing marking maupun pemasangan law caera enforcement (ETLE) secara lebih masif," tutur Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan kepada detikcom.

Selain itu, sebaiknya di truk juga dipasang perisai di kolong belakang. Ini untuk menghindari kendaraan yang masuk ke kolong truk hingga mengakibatkan ringsek. Sejauh ini kata Wildan, pengelola tol sudah mengikuti rekomendasi tersebut seperti memasang chevron hingga memperbaiki rest area. Namun khusus rest area jumlahnya dirasa belum cukup untuk menampung pengendara beristirahat.

"Sementara untuk yang truk ODOL dan pemasangan perisai belakang pada truk belum berjalan optimal, padahal ini adalah kata kunci untuk menurunkan fatalitasnya," beber Wildan.

Simak Video 'Jalan Tol dengan Fatalitas Kecelakaan Tertinggi di Dunia Ada di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(dry/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT