Ternyata! Dimensi Truk Penyebab Kecelakaan Maut Balikpapan Tak Standar

Tim detikcom - detikOto
Senin, 24 Jan 2022 10:50 WIB
Rekaman CCTV detik-detik kecelakaan maut truk tronton tabrak sejumlah pengendara di Balikpapan, Kaltim. (dok. Istimewa)
Foto: Rekaman CCTV detik-detik kecelakaan maut truk tronton tabrak sejumlah pengendara di Balikpapan, Kaltim. (dok. Istimewa)
Jakarta -

Kecelakaan maut terjadi di Balikpapan akibat sebuah truk mengalami rem blong dan menabrak beberapa kendaraan yang berhenti di persimpangan jalan. Ternyata, truk yang menyebabkan kecelakaan maut tersebut tergolong truk ODOL atau over dimension over loading.

Hal itu berdasarkan penyelidikan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Disebutkan, dimensi truk itu tidak standar lagi. Panjang rangka truk tronton berpelat nomor KT 8534 AJ tersebut ditambah 20 cm.

"Axel atau sumbu rodanya juga ditambah satu, sehingga menjadi 3 sumbu roda," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi seperti dikutip Antara.

Truk tersebut menggunakan sistem rem Air Over Hydraulic (AOH). Sistem rem tersebut menggunakan angin dan minyak rem sekaligus.

Namun, belum dipastikan apakah penambahan panjang dan sumbu roda ini mempengaruhi sistem pengereman. Menurut keterangan polisi, pompa angin rem tidak berfungsi.

Instruktur dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, mengatakan penyebab rem blong yang dialami pada truk tronton tersebut diduga lantaran sopir tak memahami teknik pengereman.

"Kalau rem truk apalagi beberapa roda di belakang sumbu roda 8, ditambah dua di bagian kepalanya. Kalau ban semacam ini maka sistemnya rem angin murni, ketika rem angin murni (full air brake), remnya tidak ada, (sebetulnya, Red) mobil tidak bisa bergerak," ujar Jusri kepada detikcom, Jumat (21/1/2022).

Jusri menjelaskan sistem pengereman kendaraan besar berbeda dengan mobil penumpang.

"Beban kerja rem itu berat, oleh karena itu APM menyiapkan dengan menyediakan rem-rem selain service brake atau rem kaki, yaitu ada exhaust brake, atau retarder, di mana setiap deselerasi harus menggunakan exhaust atau retarder," jelas Jusri.

Sistem pengereman pada truk tronton umumnya menggunakan sistem pengereman full air brake, yang menggunakan tambahan sistem tekanan udara dan membawa tangki udara.

"Penyebab langsung kasusnya, di sini yaitu si sopir tidak paham. Tidak bisa menyikapi, tidak tahu tekniknya. Saya rasa remnya blong karena service brake terlalu sering digunakan, atau bisa juga sebelum berangkat angin rem tidak dibuang sehingga kondisi tabung rem itu isinya air melulu, sehingga pedal rem tinggi kemampuan rem menyusut dan dampaknya panas," jelasnya.

Lalu masalah brake fading yang bisa terjadi ketika kampas rem panas secara berlebihan. Sehingga kinerja rem tidak maksimal.

"Kalau rem kaki selalu digunakan seperti di kendaraan kecil, maka fungsi rem akan mengalami penyusutan yang namanya brake fading, karena suhu dikonstruksi rem panas, ketika konstruksi rem itu panas maka otomatis jarak pengereman akan panjang dan rem tidak efektif sama sekali," ungkap Jusri.



Simak Video "Polisi Ralat Data Korban Tewas Kecelakaan Maut Balikpapan"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)