Truk Tronton Maut di Balikpapan, Kenapa Sopir Tak Banting Setir ke Kiri?

Tim detikcom - detikOto
Jumat, 21 Jan 2022 14:37 WIB
Simpang Muara Rapak, Lokasi Tragedi Kecelakaan Maut Balikpapan
Foto: Kecelakaan maut truk tronton tabrak sejumlah pengendara di Balikpapan, Kaltim. (Budi/detikcom)
Jakarta -

Kecelakaan tragis truk tronton disebabkan karena rem blong di turunan wilayah Muara Rampak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pakar keselamatan berkendara menyoroti kompetensi sopir yang membawa kendaraan besar tersebut.

"Nggak semua pengemudi memiliki kompetensi yang benar. Kompetensi tidak hanya pada saat aman tapi juga bagaimana sikap, tindakan dan keputusan dia benar saat darurat," ujar Pendiri sekaligus pengajar senior di Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Sumana kepada detikcom, Jumat (21/1/2022).

Lebih lanjut saat sopir dihadapkan dalam kondisi darurat, seharusnya memilih opsi yang bisa meminimalisir risiko. Apalagi keputusan itu diburu dengan waktu dalam hitungan detik.

"Saat darurat dia harus bisa melihat dan mengambil keputusan benar dalam hitungan detik, melalui pencegahan tindakan operasional. Masalah rem, engine stall, ban pecah slip dan lain-lain, apa rumusnya. Harus paham," terang Sony.

Detik-detik terjadinya kecelakaan terekam kamera CCTV di sekitar kejadian. Terlihat truk tronton berkelir coklat tiba-tiba melaju cepat di jalan menurun, lalu menghantam sejumlah kendaraan yang tengah berhenti di lampu merah dari arah belakang.

Sony menambahkan sopir truk tronton itu dihadapkan pada opsi untuk menghindari kecelakaan yang lebih parah. Tetapi malah memilih untuk lurus di mana mengakibatkan korban jiwa berjatuhan. Hal ini erat kaitannya dengan kompetensi mengemudi.

"Lurus ketemu kendaraan kecil yang tidak fatal buat dia, tapi fatal untuk orang lain," kata Sony.

"Banting steer ke kiri, ketemu pohon, fatal buat dia tapi kecil resiko buat orang lain. Banting steer kanan ketemu kendaraan lain yang berlawanan arah, fatal buat dia," sambung Sony.

Sony mengatakan kompetensi pengemudi kendaraan besar perlu menjadi perhatian. Sebab tanggung jawab tak hanya menyangkut barang bawaan, tetapi juga besar resikonya pada keselamatan orang lain. Menurut Sony, memiliki Surat Izin Mengemudi saja tidak cukup.

"Akal sehat mengalahkan tanggung jawab dia terhadap keselamatan orang lain. Ini karena tidak kompeten dan punya SIM belum tentu kompeten," tambah Sony.

Beberapa waktu yang lalu, menurut Ahmad Wildan selaku Senior Investigator KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi), Indonesia perlu menerapkan sertifikasi bagi pengendara kendaraan besar. Hal ini agar tidak ada lagi sopir sembarangan atau membawa truk secara ugal-ugalan di jalan.

"Jadi kita harus mengacu pada sejumlah negara lain yang mewajibkan adanya sertifikasi pengendara kendaraan besar. Untuk sekarang ini di Indonesia kan katanya cuman punya SIM saja sudah cukup, padahal itu berbahaya," kata Ahmad Wildan.

Sebagai contoh di Amerika Serikat, seluruh sopir truk wajib memiliki lisensi khusus yang bersertifikat. Untuk bisa mendapatkannya, seseorang wajib mengikuti pelatihan lisensi khusus membawa kendaraan komersil atau Commercial Driver License (CDL).

Lisensi CDL dapat diperoleh melalui setiap agensi kendaraan bermotor di seluruh negara bagian AS. Setelah mendapatkannya, setiap pengendara akan langsung diawasi oleh badan pengawas angkutan kendaraan atau Federal Motor Carrier Safety Administration (FMCSA).

Nah, FMCSA ini akan mengawasi seluruh pengangkutan truk di 50 negara bagian AS. Pihaknya juga mengatur jam kerja pengemudi, kondisi kerja, batasan peralatan hingga persyaratan lisensi khusus.

Saksikan juga: Dedikasi Guru Tunarungu, Mengajar 'Sunyi' Selama 15 Tahun

[Gambas:Video 20detik]




(riar/din)