Di Malaysia Ternyata Juga Ada Pungli SIM, Cara Berantasnya Bisa Dicontoh Indonesia

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 24 Sep 2021 17:20 WIB
SIM Malaysia
SIM Malaysia. Foto: Istimewa
Jakarta -

Malaysia juga dihadapi praktik pungli saat ujian Surat Izin Mengemudi (SIM). Kementerian Transportasi Malaysia menyiapkan strategi untuk mencegah praktik pungli, yaitu dengan penggunaan gadget berteknologi tinggi.

The Star mewartakan, Menteri Transportasi Malaysia Datuk Seri Dr Wee Ka Siong melakukan studi kelayakan tentang penggunaan gadget berteknologi tinggi untuk meningkatkan integritas saat ujian mengemudi. Dia mengatakan, CCTV dan sensor di kendaraan dapat digunakan selama tes mengemudi untuk menghindari kemungkinan korupsi.

"Pada saat yang sama, ketika mereka berada di sirkuit (ujian mengemudi) untuk parkir, semua tiang akan dilengkapi dengan sensor dan kamera. Ini untuk memverifikasi masalah integritas karena ada klaim bahwa Anda dapat memberikan suap saat mengikuti tes mengemudi. Ini tidak adil jika tidak ada bukti seperti itu. Dengan penggunaan teknologi seperti itu, semua informasi dapat dikendalikan oleh pusat kendali dan integritas akhirnya dapat ditegakkan," katanya.

Dr Wee mengatakan, Kementerian Transportasi juga melihat penggunaan otomatisasi dalam merekam bagian-bagian tertentu dari tes. Pihak penguji bisa merekam dan memutar ulang apa yang terjadi saat ujian SIM.

"Dan kami menyadari bahwa integritas sangat penting. Dan kami melihat prosesnya perlu dipantau secara online tanpa kami mengorbankan integritas. Kami akan melihat semua metode terbaik untuk membantu memfasilitasi masyarakat," kata Dr Wee.

Sementara itu, di Indonesia praktik pungli saat ujian SIM tengah disorot. Pegiat antikorupsi Emerson Yuntho membuat surat terbuka perihal perbaikan di lingkungan Samsat dan Satpas. Menurutnya, pebalap top seperti Lewis Hamilton dan Valentino Rossi tak mungkin mendapatkan SIM di Indonesia.

Menurut Emerson, praktik pungli telah terjadi hampir merata di Samsat dan Satpas seluruh Indonesia. Dia menyebut telah mendapatkan keluhan serupa dari masyarakat. Emerson menyoroti perihal urusan pembuatan atau perpanjangan SIM di Satpas. Menurutnya, ujian teori dan ujian praktik dalam proses pembuatan SIM kerap tidak masuk akal dan transparan.

"Dengan model ujian praktik seperti ini, publik percaya Lewis Hamilton akan gagal mendapatkan SIM A dan Valentino Rossi juga tidak mungkin memperoleh SIM C di Indonesia," kata Emerson.

"Akibat sulitnya prosedur mendapatkan SIM, survei sederhana menunjukkan bahwa 3 dari 4 warga Indonesia (75 persen)--baik sengaja atau terpaksa--memperoleh SIM dengan cara yang tidak wajar (membayar lebih dari seharusnya, menyiapkan petugas, tidak mengikuti prosedur secara benar," terang Emerson.

Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo membeberkan 5 strategi kepolisian dalam upaya mencegah pungli di kantor Samsat dan Satpas SIM DKI Jakarta.

"Upaya pencegahan pungli di Satpas/Samsat yang dilakukan, pertama mengurangi interaksi antara petugas dan masyarakat yang dilayani dengan membangun sistem online berbasis IT (aplikasi SINAR untuk perpanjangan SIM, SIONDEL dan SIGNAL untuk perpanjangan STNK, ETLE untuk tilang dll," jelas Kombes Sambodo dalam keterangannya.

Upaya kedua adalah dengan meningkatkan pengawasan melalui CCTV maupun pengawasan melekat. Pihak kepolisian juga terbuka dengan menerima kotak pengaduan atau loket pengaduan masyarakat.

"Menuliskan berbagai tulisan layanan 'tidak dipungut biaya' (pada loket pelayanan)," ucapnya.



Simak Video "Ujian SIM Gagal Terus? Jangan Galau, Sekarang Ada 'Bimbel'-nya"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)