Ujian Praktik SIM di Indonesia Sulit? Padahal Harusnya Ada Tes Langsung di Jalan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kamis, 16 Sep 2021 19:28 WIB
Kemnehub menggelar pembuatan SIM A Umum kolektif untuk sopir (driver) taksi online maupun konvensional. Mereka sangat antusias mengikuti ujian tersebut.
Ujian SIM di Indonesia dianggap sulit. Di negara maju lebih sulit lagi karena ada penilaian ujian di jalan raya. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), pengendara harus melalui ujian teori dan praktik. Banyak yang menganggap ujian praktik SIM di Indonesia sulit. Bahkan, tak sedikit yang gagal lulus ujian SIM.

Praktisi keselamatan berkendara sekaligus founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, ujian praktik SIM di Indonesia hanya sebatas pengetesan keterampilan dasar mengemudi. Padahal, ada yang lebih sulit lagi, yaitu berkendara di jalan raya sebagai 'medan perang' sesungguhnya.

Menurut Jusri, Indonesia seharusnya menerapkan ujian SIM di jalan raya juga. Ujian SIM di jalan raya telah diterapkan di berbagai negara maju. Setelah pengendara lulus ujian teori dan praktik di lapangan tertutup, mereka harus melalui ujian sesungguhnya yaitu berkendara di jalan raya.

"Yang diuji tidak semata kepada technical skill. Technical skill adalah berbelok, ngerem, menikung di bundaran sempit, angka 8, berhenti dengan benar, keseimbangan, parkir mundur, parkir paralel untuk mobil yang hanya dilakukan di lapangan tertutup," kata Jusri kepada detikcom, Kamis (16/9/2021).

"Yang perlu diketahui bukan tes technical skill. Lebih kepada soft skill. Tes soft skill itu di jalan. Jadi bukan keterampilan (tes di lingkungan tertutup)," sambungnya.

Dengan menerapkan ujian SIM langsung di jalan raya, maka akan bisa diketahui kualitas kemampuan pengendara tersebut. Sebab, objek bahaya saat ujian SIM di jalan raya lebih dinamis ketimbang ujian praktik hanya di lapangan tertutup.

"Jadi ada kemampuan kognitif kita, juga ada kemampuan berbagi kita, tertib, emosional dilihat. Karena kita berinteraksi dengan segala traffic, sampai traffic padat. Semua aaspek berlalu lintas akan ada di sini. Pihak asesor bisa melihat kemampuan emosi dia, kestabilan dia, bagaimana dia berinteraksi. Karena intimidasi di jalan itu ada, lebih sulit. Sayangnya ini tidak kita lakukan," beber Jusri.

Menerapkan ujian SIM dengan benar dan tegas, ditambah ujian di jalan raya akan membuat keterampilan pengendara diuji. Dengan begitu, kebiasaan berkendara yang tertib berlalu lintas dan mematuhi aturan tetap ditegakkan pengendara sehingga angka kecelakaan lalu lintas berkurang.

"Kualitas dari proses pengambilan SIM dan proses pelaksanaan untuk mendapatkan SIM tadi akan menentukan sekali terhadap kualitas keselamatan berlalu lintas, termasuk ketertiban. Karena seorang yang mendapatkan SIM dengan benar, artinya semuanya dilakukan secara benar, maka itu akan memberikan kualitas perilaku mereka di jalan. Ini merupakan hulu dari ketertiban berlalu lintas di Indonesia," ucap Jusri.

"Proses-proses pengambilan SIM di luar negeri sudah sangat ideal, dan kita bisa lihat konsekuensi positifnya negara-negara maju selaras dengan tertibnya berlalu lintas di sana. Kenapa? Karena mereka sadar bahwa peraturan itu adalah kebutuhan dari keselamatan mereka."

"Jadi saya menganjurkan, ada tes di jalan. Tingkat kesulitan di jalan jauh lebih tinggi. Tes di jalan ini adalah kondisi nyata, kondisi aktual," sebutnya.



Simak Video "Ujian SIM Gagal Terus? Jangan Galau, Sekarang Ada 'Bimbel'-nya"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)