Salah Kaprah Istilah 'Bus Tronton'

Luthfi Anshori - detikOto
Senin, 24 Mei 2021 09:20 WIB
Bus tronton PO Gunung Harta yang menggunakan bodi Adiputro
Foto: Instagram @gunungharta.solutions. Bus tronton PO Gunung Harta yang menggunakan bodi Adiputro.
Jakarta -

Di Indonesia, bus dengan tiga axle atau sumbu kerap disebut sebagai bus tronton. Padahal istilah tersebut sebenarnya keliru. Bus tiga axle lebih tepat disebut sebagai bus trintin. Seperti apa penjelasannya?

Seperti diungkapkan Bus and Coach Consultant Laksana, Lang Widya Praba Wasista, di istilah internasional bus tronton itu disebut sebagai twin axle karena gandar belakangnya ganda, sumbunya dua di belakang. Namun secara teknis itu adalah triple axle atau bus tiga sumbu.

"Sedangkan orang awam Indonesia kalau melihat kendaraan besar tiga sumbu, yang di belakang dua sumbu, itu kan nyebutnya tronton. Padahal kalau bus ini (tiga sumbu) harusnya nyebutnya trintin. Cuma karena masyarakat kita lebih mudah mengenalnya dengan tronton, ya istilah umum (bus tronton) jadi yang disebut orang-orang awam tadi," kata Lang Widya, kepada detikOto, belum lama ini.

Sasis bus Mercedes-Benz OC 500 RF 2542Sasis bus Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 Foto: Mercedes-Benz

Lalu apa yang membedakan tronton dan trintin? Kendaraan tronton sendiri sebenarnya juga memiliki tiga sumbu seperti bus trintin. Bedanya, tiga sumbu tronton memiliki total roda 10 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 2.2. Ini lazim ditemui pada kendaraan panjang seperti truk kontainer.

"Kalau di tronton itu dua sumbu di belakang jumlah rodanya ada 8 ya. Jadi double semua, jadi di as penggerak itu ada ban double dan di axle belakang bannya juga double. Fungsi keduanya sebagai penggerak atau penyalur tenaga dari mesin," jelas pria yang akrab disapa Lek Lang.

Sementara pada bus tiga axle yang beredar di Indonesia, umumnya dibekali roda sebanyak 8 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 1.1. Roda paling belakang bisa dibelokkan untuk membantu bus trintin bermanuver, dengan cara meminimalisasi radius putar.

Bus tronton PO SAN buatan karoseri LaksanaBus tronton PO SAN buatan karoseri Laksana Foto: Laksana

"Kalau di bus ini kan dia di roda penggerak double, sedangkan di belakangnya kan dia single. Jadi dia berfungsi sebagai penopang mesin aja, karena dia sasisnya lebih panjang dan yang (axle) paling belakang ini bisa bergerak untuk menjadi kemudi. Jadi kalau roda depan belok kiri, roda belakang ini nanti dia akan mengikuti radiusnya bergerak ke kanan, jadi bisa meminimalisir radius putar. Meskipun unitnya lebih panjang 1,5 meter dari yang regular, dia sudut tikungnya lebih kecil, karena diimbangi dengan roda trintin yang di belakang itu tadi," sambung Lang Widya.

Di Indonesia sendiri ada beberapa merek sasis tronton yang dipasarkan, mulai dari Mercedes-Benz OC 500 RF 2542, Scania K410iB, Volvo B11R, dan MAN R37. Sasis bus trintin umumnya dipasangkan dengan bodi sepanjang 13,5 meter. Sasis ini juga tergolong fleksibel, karena bisa dipasang di berbagai platform bodi bus.

"Bisa digunakan di bodi bus XHD, double decker, city bus, di UHD juga bisa kayak yang di Adiputro," terang Lang Widya.



Simak Video "Bangga Buatan Indonesia! Bus Laksana Laris di Luar Negeri"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/rgr)