Kamis, 27 Agu 2020 19:28 WIB

Road Bike Diusulkan Masuk Tol, Komunitas: Jangan Asal-asalan

Ridwan Arifin - detikOto
Road bike cyclist man cycling, athlete on a race cycle Mengizinkan sepeda (roadbike) masuk jalan tol tak bisa sembarangan. Keselamatan dan keamanan harus jadi faktor utama yang dipersiapkan (Getty Images/iStockphoto)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta izin kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono agar dibukakan satu jalur tol untuk sepeda. Sepeda yang diizinkan pun adalah jenis Road Bike. Bagaimana tanggapan komunitas?

Ario Pratomo salah satu penggawa Jakarta Cycling Community (JKTCC) menyambut positif ide Pemprov DKI tapi ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar hal ini tidak menjadi malapetaka bagi pesepeda.

"Idenya menarik, dalam artian siapa sih yang tidak senang pesepeda ditambahin satu ruas jalur lagi gitu ya. Apalagi di jalan tol yang katakanlah bisa 10 km sampai 15 km, semua pasti akan pengen coba lah." buka Ario saat dihubungi detikcom, Kamis (27/8/2020).

Isu utama menurutnya ialah soal keamanan pesepeda. Sepeda road bike dibuat untuk kecepatan dengan ban tipis untuk melaju dengan cepat dan jauh di permukaan aspal.

"Kalau safety-nya benar, eksekusinya benar, aspeknya itu diperhatikan. Saya rasa tidak ada masalah. Cuma jangan sampai main buka-buka saja ternyata masih ada lubang, sambungan jalan, ada ruas-ruas yang bergelombang, buat saya terlalu gegabah. Mungkin buat roda empat nggak bermasalah, tapi buat road bike agak bermasalah," tutur Ario.

Sebagai pengguna road bike, Ario menilai penggunaan jalan tol layang untuk sepeda sangat berbahaya karena adanya terpaan angin kencang dari sisi kanan, kiri, depan bahkan belakang. Kondisi tersebut berpotensi membuat pesepeda kehilangan keseimbangan. Sehingga pesepeda dapat terjatuh atau tidak bisa mengendalikan sepedanya.

"Angin ketika gowes di atas itu besar kan ya. Ketika lewat di jalan bergelombang, kita punya handling juga agak sedikit berkurang stabilitas sepedanya, ditambah ada angin samping, angin depan, tentunya itu butuh effort lebih-lah dari pesepedanya untuk kontrol sepeda, karena kalau tidak dia bisa terjatuh," jelasnya.

Selain itu, jika benar jalur ini dibuat untuk pesepeda road bike dan berdampingan dengan roda empat dirasa harus memiliki pembatas.

"Pembatasnya seperti apa? apakah cuma dipasang cone cone merah kemudian dipakai tali, atau mau dibikin seperti apa."

"Karena kalau cuma cone merah dipakai tali saya rasa kurang tau faktor safety-nya perlu dipertanyakan juga, dan kalau ini (ruas tol) dibuka untuk road bike saya rasa ini juga bukan untuk pemula juga, karena anginnya lumayan besar, dan itu juga lumayan berat kalau untuk pemula," jelasnya.

"Idenya menarik kalau semua aspek diperhatikan go ahead, tapi kalau asal dibikin saja saya tidak setuju," pungkas Ario.

Sebelumnya Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Danang Parikesit membenarkan surat yang dikirim Anies mengenai pembukaan jalur sepeda di jalan tol. Anies mengajukan surat tersebut pada 11 Agustus 2020.

"Ada permintaan (jalan tol dibuka untuk jalur sepeda)," kata Danang kepada detikcom, Rabu (26/8/2020) kemarin.

Danang belum bisa memastikan apakah permintaan tersebut akan dikabulkan atau tidak. Saat ini pihaknya sedang membahas dan mengevaluasi bersama Bina Marga termasuk memperhitungkan risiko keselamatan jika itu diterapkan.

"Sedang dibahas dan dievaluasi oleh Bina Marga dan BPJT untuk aspek safety dan pengoperasian termasuk durasi dan sistem implementasi," jelasnya.



Simak Video "Waduh! Rombongan Pesepeda Masuk Tol Jagorawi"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com