Selasa, 04 Agu 2020 11:20 WIB

Maung Hingga Panser Anoa Bisa Pakai Ban Tanpa Udara Buatan TNI AD

Luthfi Anshori - detikOto
Teknologi ban tanpa udara yang dikembangkan oleh TNI AD Teknologi ban tanpa udara TNI AD sedang diuji coba pada mobil double cabin. Foto: Dok. Poltekad Kodiklat TNI AD
Jakarta -

Poltekad Kodiklat TNI AD membuat inovasi ban tanpa udara. Saat ini teknologi tersebut sedang diuji coba pada mobil pikap double cabin yang mengangkut peralatan medis. Ke depan, ban tanpa udara ini juga bisa digunakan pada kendaraan taktis (rantis) ringan Maung, hingga kendaraan lapis baja medium seperti Panser Anoa.

"Maung tentunya bisa pakai teknologi ini. Dan sebenarnya ke depan nanti, model (Panser) Anoa pun bisa pakai ban tanpa udara. Tinggal bikin cetakan ban yang lebih besar dan untuk jari-jarinya, karetnya akan dibuat lebih kental lagi, supaya bisa menahan beban yang lebih berat," ungkap Komandan Poltekad Kodiklat TNI AD, Brigjen TNI Nugraha Gumilar, melalui sambungan telepon kepada detikOto, belum lama ini.

Lanjut Nugraha menjelaskan, saat ini ban tanpa udara didesain untuk menahan beban mulai 2 ton hingga 4 ton. Kendaraan seperti sedan dan mobil SUV, sudah bisa mencoba teknologi ini. Sementara untuk kendaraan angkut personel seperti Panser Anoa yang punya bobot hingga 12,5 ton, tentunya struktur ban harus lebih kuat lagi.

PT Pindad (Persero) resmi memperkenalkan Kendraan Taktis (Rantis) Maung ke publik. Yuk, intip lebih dekat penampakannya.Rantis Maung Foto: Agung Pambudhy

"Kita akan kembangkan bertahap. Kendaraan di atas 4 ton hingga 10 ton mungkin akan bisa, tapi sekarang kita memang belum coba sampai ke sana," ujar Nugraha.

Sebagai informasi, teknologi ban tanpa udara Poltekad Kodiklat TNI AD sudah melewati sejumlah tahap pengujian, seperti melindas papan berpaku, jalanan berbatu, bahkan hingga ditembak peluru.

Khusus untuk pengujian tembakan dilakukan dengan menggunakan peluru kaliber 5,56 mm, seperti yang digunakan pada senapan serbu Pindad SS1 dan senapan serbu buatan AS, M16. Uji tembak dilakukan dari jarak maksimal 100 meter.

Kendaraan taktis berupa panser Anoa terlihat nampang di LTC Glodok, Jakarta. Jelang pelantikan Presiden, pengamanan beberapa objek vital diperketat.Panser Anoa Foto: Grandyos Zafna

Pengujian lanjutan yang akan dilakukan tim riset Poltekad Kodiklat TNI AD nantinya adalah pengetesan di jalan tol. Pengujian dilakukan pada kecepatan rata-rata 40-50 km/jam, dengan estimasi waktu selama 2-3 jam.

Pengujian ini perlu dilakukan, sebab konstruksi ban tanpa udara berbeda dengan ban konvensional yang memiliki udara. "Nanti kita akan lihat kekuatan dalam menahan panasnya seperti apa. Kalau misalnya bannya kuat, dia pasti akan lebih stabil," jelas Nugraha.

Nugraha mengatakan masih perlu waktu sampai 2 tahun lagi bagi teknologi ban tanpa udara untuk sampai kepada produksi massal. Pengetesan masih perlu dilakukan berkali-kali supaya ban safety saat digunakan nanti.

Teknologi ban tanpa udara yang dikembangkan oleh TNI ADTeknologi ban tanpa udara yang dikembangkan oleh TNI AD Foto: Dok. Poltekad Kodiklat TNI AD

"Jadi kami tidak ingin terburu-buru. Kami ingin produk ini bagus dan aman digunakan. Tahun ini kita coba lagi, kalau ada kendala kita perbaiki lagi, supaya ke depannya bisa diproduksi massal," ujar Nugraha.

Selain itu, Poltekad Kodiklat TNI AD juga perlu mendapat persetujuan dari KSAD (Kepala Staf TNI Angkatan Darat) dan Menhan (Menteri Pertahanan) agar bisa memproduksi ban tanpa udara ini secara massal, baik untuk kepentingan internal TNI maupun untuk konsumen umum.



Simak Video "Keren! TNI Bikin Ban Tanpa Udara dan Tak Bisa Pecah"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com