Jumat, 09 Agu 2019 15:46 WIB

Jakarta Butuh Kendaraan Ramah Lingkungan?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Kualitas udara di DKI Jakarta akhir-akhir ini tengah disorot. Beberapa hari ke belakang, Jakarta masuk dalam peringkat teratas kota dengan polusi tertinggi di dunia.

Kendaraan bermotor yang masih mengandalkan mesin bakar tentunya menyumbang emisi ke udara. Tak heran, untuk menekan angka emisi di Ibu Kota, Pemprov DKI Jakarta melakukan pembatasan kendaraan bermotor khususnya mobil pribadi dengan skema ganjil genap. Pembatasan kendaraan ganjil genap itu kini diperluas menjadi 25 rute yang sebelumnya hanya 9 rute.



Namun, ada beberapa kendaraan bermotor yang tetap boleh melintas di pembatasan ganjil genap tersebut. Salah satunya adalah kendaraan berpenggerak listrik.

"Ganjil genap bebas untuk mobil listrik," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat mendampingi Jokowi usai meresmikan Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta, Kamis (8/8/2019) kemarin.

Kendaraan listrik saat ini mungkin dibutuhkan untuk menekan polusi udara. Soalnya, mobil listrik tak lagi memiliki emisi gas buang karena tak ada proses pembakaran seperti pada kendaraan konvensional.

Ilustrasi Ganjil GenapIlustrasi Ganjil Genap Foto: Pradita Utama


Bicara kendaraan listrik, sebenarnya tak cuma ada mobil listrik sepenuhnya. Soal elektrifikasi kendaraan, setidaknya ada empat jenis kendaraan yang diklaim lebih ramah lingkungan. Keempatnya adalah mobil hybrid yang menggabungkan mesin bakar dan motor listrik, plug-in hybrid yang masih mengombinasikan mesin bakar dan motor listrik tapi bisa dicolok untuk diisi ulang baterainya, mobil listrik sepenuhnya yang tak lagi bergantung kepada mesin bakar, sertai mobil fuel cell yang menggunakan bahan bakar seperti hidrogen.

Belum lama ini beberapa perguruan tinggi di Indonesia melakukan penelitian seputar kendaraan ramah lingkungan. Mereka membandingkan penggunaan mobil bermesin bakar, mobil hybrid dan mobil plug-in hybrid. Kepala Program Kendaraan Elektrik Indonesia dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, mengatakan mobil hybrid dan plug-in hybrid memberikan efisiensi bahan bakar lebih baik dibanding mobil konvensional.



Untuk kendaraan hybrid disebutkan lebih irit sampai 49 persen dibanding kendaraan konvensional. Sedangkan kendaraan plug-in hybrid bisa lebih irit 74 persen.

Efisiensi bahan bakar itu berpengaruh terhadap sumbangan emisi ke udara. Disebutkan, emisi kendaraan hybrid dan plug-in hybrid lebih sedikit dibandingkan dengan mobil konvensional.

Menurut Agus, mobil hybrid bisa menekan emisi CO2 sampai 49 persen. Lebih besar lagi, mobil plug-in hybrid-yang juga bisa melaju dengan mengandalkan motorlistriknya saja bisa menekan emisi sampai 58 persen.
Ilustrasi Ganjil GenapIlustrasi Ganjil Genap Foto: Pradita Utama




Namun, Agus menyoroti kendaraan listrik sepenuhnya yang tetap menyumbang emisi ke udara meski tidak ada lagi mesin bakar yang diandalkan di kendaraan listrik. Soalnya, pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan batu bara yang tetap menyumang polusi udara.

"Sehingga kalau pakai pure BEV (kendaraan listrik sepenuhnya) pun tetap ada polusi memang, meskipun lebih gampang kita kendalikan karena di sisi pembangkit listrik dibanding dengan jutaan di knalpot," kata Agus beberapa waktu lalu.

Agus menyimpulkan, penggunaan mobil listrik sepenuhnya tidak menghilangkan emisi 100 persen. Setidaknya, penggunaan mobil listrik bisa menekan emisi sampai 67 persen, karena masalah pembangkit listrik yang masih pakai batu bara.



Kendaraan listrik sepenuhnya mungkin masih banyak tantangannya di Indonesia. Sebabnya, infrastruktur pengisian baterai kendaraan listrik belum banyak beredar di fasilitas umum. Terlebih, tantangan lain listrik sering byar pet seperti akhir pekan kemarin yang membuat penggunaan kendaraan listrik mungkin akan terhambat.

Sebagai jalan tengahnya, kendaraan hybrid dan plug-in hybrid bisa jadi solusi. Sekadar diketahui, kendaraan hybrid dan plug-in hybrid sama-sama menggunakan dua mesin, satu mesin bakar konvensional, satu lagi motor listrik yang disuplai tenaganya dari baterai. Bedanya, kendaraan plug-in hybrid bisa dicolok untuk diisi ulang baterainya serta bisa berjalan menggunakan motor listrik saja, sementara kendaraan hybrid menyimpan energi listrik dari deselerasi atau pengurangan kecepatan kendaraan.

Mungkin sudah saatnya Indonesia khususnya kota besar seperti Jakarta yang masih memiliki polusi udara buruk untuk menerapkan penggunaan kendaraan ramah lingkungan tersebut. Paling tidak, penggunaan kendaraan berbasis listrik bisa membantu menekan emisi.

Pemerintah sudah memberikan lampu hijau untuk percepatan penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut dirinya telah menandatangani peraturan mobil listrik. Langkah Pemprov DKI Jakarta untuk mendukung penggunaan mobil listrik melalui pengecualian penerapan ganjil genap pun menjadi sinyal positif.

Tak cuma kendaraan pribadi, Pemprov DKI Jakarta sedang menyiapkan penggunaan transportasi umum yang lebih ramah lingkungan. TransJakarta disebut akan menggunakan bus bertenaga listrik. Selain itu, salah satu perusahaan taksi, Bluebird juga telah mengoperasikan armada mobil listrik.

Simak Video "Riuh Ganjil Genap Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed