Mobil Tanpa Pengemudi Sukses Lintasi Italia-China

Mobil Tanpa Pengemudi Sukses Lintasi Italia-China

- detikOto
Selasa, 09 Nov 2010 16:34 WIB
Mobil Tanpa Pengemudi Sukses Lintasi Italia-China
Parma - Sebuah mobil listrik tanpa pengemudi berhasil menempuh perjalanan yang sangat panjang melintasi Italia menuju China yang berjarak sekitar 8.000 mil atau 12.874,75 km selama 92 hari.

Ini adalah proyek percobaan yang dilakukan oleh European Research
Council dan menjadikan mobil ini sebagai mobil tanpa pengemudi yang paling jauh menempuh perjalanan.

Kendaraan yang mulai diberangkatkan dari Parma Italia pada tanggal 20 Juli lalu itu dilengkapi dengan scanner laser bertenaga surya dan kamera video yang bekerja sama untuk mendeteksi dan menghindari rintangan. Ini merupakan bagian dari suatu eksperimen yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan di jalan. Sensor tadi memungkinkan mereka untuk menavigasi mobil dalam segala kondisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tidak tahu rute, maksud saya apa yang akan ada di jalan dan kita akan
menemukan jalan bagus, kemacetan, kemacetan panjang, kemacetan sedang, pengemudi gila atau biasa. Jadi kami mengalami banyak hal," ungkap Isabella Fredriga yang merupakan seorang insinyur yang ikut dalam penelitian ini seperti detikOto kutip dari Daily Mail, Selasa (9/11/2010).

Tantangan makin bertambah karena mobil yang ikut dalam penelitian ini tidaklah memiliki peta. Jadi si mobil harus benar-benar mencari jalan tujuannya sendiri melalui sebuah sistem komputeryang dijuluki Gold. Sistem ini menganalisis berbagai informasi dari sensor untuk kemudian secara otomatis menyesuaikan kecepatan kendaraan dan arahnya.

Tapi meski mobil berbentuk van ini tidak dilengkapi pengemudi dan peta, mobil ini membawa penumpang untuk mengantisipasi keadaan darurat. Para peneliti yang ikut dalam mobil ini memang harus campur tangan beberapa kali pada saat kendaraan bermotor terjebak dalam kemacetan lalu lintas Moskow dan untuk membayar tol.

"Roda kemudi ini dikendalikan oleh PC. Jadi PC mengirimkan perintah dan
menggerakkan kemudi roda dan berbelok dan kita bisa mengikuti jalan, mengikuti kurva dan menghindari rintangan ini," kata Alberto Broggi dari Vislab di University of Parma di Italia yang menjadi peneliti utama untuk proyek tersebut.

"Idenya di sini adalah melakukan perjalanan panjang, pada dua benua yang
berbeda, di negara-negara yang berbeda, cuaca yang berbeda, kondisi lalu lintas yang berbeda, infrastruktur yang berbeda. Kemudian kita dapat memiliki beberapa alternatif situasi untuk menguji sistem," jelasnya.

"Ada beberapa saat menakutkan. Seperti saat kendaraan menabrak mobil yang berada di depannya dan itu hanya karena kita lupa. Kami berhenti dan kami lupa untuk mematikan sistem," cerita Isabella Fredriga.

Untuk proyek ini, European Research Council sampai harus merogoh kocek hingga 1,5 juta poundsterling atau sekitar Rp 21,59 miliar.

(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads