Pakar Bongkar Alasan Pertamina Tak Turunkan Harga Pertamax

Pakar Bongkar Alasan Pertamina Tak Turunkan Harga Pertamax

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Sabtu, 04 Jul 2026 15:27 WIB
Produk BBM di SPBU Pertamina dari Pertalite, Solar, hingga Pertamax
Harga Pertamax. Foto: Henri Aja/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0
Jakarta -

Meski harga minyak dunia sedang turun, namun harga Pertamax belum mengalami penyesuaian. Lantas, benarkah Pertamina punya alasan 'tersembunyi' di balik keputusan tersebut.

Harga Pertamax saat ini masih Rp 16.250/liter. Nominal tersebut sudah bertahan selama kurang lebih sebulan. Menurut ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti, angka tersebut masih di batas wajar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp 16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi," ujar Yayan, dikutip dari Antaranews, Sabtu (3/7).

Pertamax Turbo di SPBU Bekasi.BBM Pertamax di SPBU Bekasi. Foto: Septian Farhan Nurhuda/detik.com

Yayan menjelaskan, menurut hitung-hitungannya, keputusan mempertahankan harga Pertamax sudah bisa diramal, dan kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi penghalusan harga atau price smoothing yang selama ini diterapkan Pertamina.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, Pertamina sempat menahan harga Pertamax ketika minyak dunia sedang mahal-mahalnya. Kini, ketika turun, perusahaan plat merah itu menunda penyesuaian demi memulihkan margin.

"Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," kata Yayan.

Yayan menjelaskan, harga BBM nonsubsidi tak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan model yang mengacu pada formula pemerintah dan perilaku Pertamina sebagai penentu harga, Pertamax diperkirakan memang akan tetap dipertahankan.

Untuk bulan depan, dia menjelaskan, formula dasar memang mengarah pada harga Rp 13.700 per liter, namun pendekatan smoothing memperkirakan harga berada di kisaran Rp 16.000 per liter atau tak jauh berbeda dibandingkan nominal saat ini.

Menurut Yayan, apabila Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, manfaat utamanya adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan.

Sebaliknya, apabila harga dipertahankan, manfaat penurunan harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin Pertamina, sementara beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.

"Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar βˆ’0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen), jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan pemulihan margin Pertamina," kata dia.




(sfn/lth)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads