Viral di media sosial ribut-ribut gara-gara masalah parkir. Keributan itu dipicu oleh tindakan pengendara yang 'nge-tag' slot parkir dengan berdiri di lokasi yang kosong. Emang boleh?
Peristiwa itu viral di media sosial Threads. Pengguna Threads dengan akun @radityarusydi yang mengunggah video tersebut mengungkapkan, petugas parkir sudah menginformasikan kepada dirinya terkait ada spot parkir yang kosong. Namun, sesampainya di lokasi tersebut ternyata sudah berdiri seorang perempuan di spot parkir tersebut. Wanita itu berdiri untuk nge-tag tempat parkir, sementara mobilnya belum tiba.
Setelah berdebat, pemilik akun Threads @radityarusydi itu akhirnya mengalah. Tapi masalah ternyata belum selesai. Suami-istri yang ngetag parkir tersebut menunggu @radityarusydi di dalam dan terjadilah keributan yang viral itu. Sampai-sampai, keluar pertanyaan apakah ada pasal yang melarang tagging parkir seperti itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Parkiran Karyawan di Kantor Kena Pajak? |
Etika Ngetag Parkir
Menurut Ketua Umum Indonesia Parking Association (IPA) Rio Octaviano, memang tidak ada aturan tertulis terkait tindakan tagging parkir tersebut. Namun, hal itu menyangkut soal etika.
"Tidak dibenarkan secara etika. Karena balik lagi, saya bicara di sini belum ada aturan yang telah disepakati," kata Rio kepada detikOto, Selasa (18/8/2026).
Rio mencontohkan tindakan tagging slot parkir yang tidak dibenarkan secara etika. Misalnya, seseorang standby berdiri di slot parkir tersebut untuk waktu yang lama, mungkin lebih dari 1 menit, hal itu tidak dibenarkan secara etika.
"Yang kurang baik adalah, misalnya (mobil) dia belum masuk lot parkir, tapi sudah ada satu orang yang, misalnya dia nelpon temannya di dalam infoin ada parkiran di lantai B2, terus dia standby di situ, nah itu membutuhkan waktu, lebih dari 1 menit atau 2 menit. Nah itu saya rasa itu kurang baik," jelas Rio.
Rio menyoroti tindakan yang memicu konflik. Menurut Rio, tindakan tersebut sebaiknya dihindari agar tak terjadi masalah berlanjut.
"Karena balik lagi di sini tidak ada aturan yang berlaku, jadi bagaimana kita menyikapinya tanpa emosi. Kalau misalnya memang ada kejadian yang memang berpotensi menunjukkan friksi lebih baik dihindari. Itu kalau saya pribadi ya. Karena balik lagi di sini bukan tidak tahu mana yang benar. Kalau kita bicara hanya adab dan etika, setiap orang itu memiliki standarnya masing-masing," ujar Rio.










































