Pabrik BYD di Subang Akhirnya Mau Diresmikan, Sudah Impor 94 Ribuan Mobil dari China

Pabrik BYD di Subang Akhirnya Mau Diresmikan, Sudah Impor 94 Ribuan Mobil dari China

Ridwan Arifin - detikOto
Rabu, 02 Sep 2026 08:40 WIB
BYD Atto 1 resmi diluncurkan di GIIAS 2025 dengan harga mulai Rp195 juta. Mobil listrik murah ini langsung bikin pasar mobil bekas ketar-ketir.
BYD Atto 1, salah satu mobil listrik terlaris di Indonesia Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

PT BYD Motor Indonesia akan meresmikan pabrik di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Ini menjadi babak baru BYD Indonesia yang selama ini mengandalkan impor utuh atau completely built up (CBU) dari China.

Berdasarkan data impor Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), PT BYD Motor Indonesia sudah mengimpor sebanyak 94.798 unit sejak 2024 hingga Juli 2026. Angka itu terdiri dari berbagai model, antara lain Denza D9, Atto 3, Seal, Dolphin, M6,Sealion 07, hingga Atto 1.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun pertamanya masuk secara masif ke pasar otomotif nasional, BYD mencatatkan total impor sebanyak 16.767 unit. Model MPV dan SUV menjadi model pembuka yang diserap pasar.

Tahun 2025 menjadi periode impor terbesar BYD di Indonesia, dengan total 74.513 unit yang didatangkan dari China, mencakup delapan model sekaligus.

Seiring pembangunan pabrik Subang yang memasuki tahap akhir, insentif CBU yang mulai dihentikan, volume impor BYD anjlok drastis. Sepanjang Januari-Juli 2026, BYD hanya mengimpor 3.518 unit, jauh menurun dibanding periode yang sama pada dua tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Besarnya volume impor BYD selama 2024-2025 tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang memberikan pembebasan bea masuk untuk kendaraan listrik CBU, sebagaimana diatur dalam regulasi No. 6 Tahun 2023 jo No. 1 Tahun 2024.

Insentif ini bukan tanpa syarat. Produsen penerima wajib menyertakan surat komitmen investasi, yakni janji untuk membangun fasilitas produksi dan merakit kendaraan listrik di dalam negeri.

Skema ini memungkinkan BYD menjual mobil impor tanpa beban bea masuk selagi pabriknya masih dibangun, dengan konsekuensi harus "membayar" lewat kewajiban produksi lokal dalam jumlah setara begitu pabrik beroperasi.

Seperti diketahui, insentif pembebasan bea masuk CBU untuk mobil listrik murni ini berhenti pada akhir 2025. Sejalan dengan tenggat kewajiban produksi lokal yang jatuh pada 2026. Well, ini yang jadi alasan pola impor BYD melonjak tajam selama insentif masih berlaku, lalu anjlok drastis begitu insentif berakhir dan pabrik Subang mulai berproduksi.

Berikut ini data impor BYD di Indonesia sejak 2024

2026 (Januari-Juli): 3.518 unit

- Denza D9: 2.982 unit
- Atto 3: 536 unit

2025: 74.513 unit

- Seal: 650 unit
- Dolphin: 733 unit
- M6: 17.290 unit
- Atto 3: 2.100 unit
- Denza D9: 10.500 unit
- E6: 480 unit
- Atto 1: 30.060 unit
- Sealion 07: 12.700 unit

2024: 16.767 unit

- M6: 6.248
- Dolphin: 1.195 unit
- Atto 3: 4.012 unit
- Seal: 5.312 unit



(riar/din)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads