Mereka menilai masyarakat akan enggan untuk membeli mobil baru lagi jika ada pajak tambahan seperti pajak progresif.
Kebijakan ini seperti akan membunuh perkembangan industri otomotif yang sedang menggeliat setelah terpaan krisis ekonomi global yang terjadi sejak akhir 2008 hingga pertengahan 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan kebijakan itu volume kendaraan akan turun bukannya malah naik," kata Presiden Direktur TAM, Johnny Darmawan disela-sela peluncuran Toyota Fortuner Automatic Diesel 2.500 cc di Blacksteer FX Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2009).
an diakibatkan tidak berkenannya konsumen untuk memiliki kendaraan lebih dari satu. "Ini akan memberatkan pelaku Industri otomotif dan konsumen," cetus Johnny
Padahal, lanjut Johnny, Industri otomotif saat ini sudah cukup membukukan hasil yang menguntungkan bagi pihak pemerintah, terlebih pada tahun lalu sebanyak sekitar 650.000 unit kendaraan berhasil beredar dimasyarakat.
Industri otomotif yang berkembang saat ini penyumbang terbesar kelima APBN.
Dia juga meminta jika pemerintah jangan asal membuat kebijakan yang nantinya akan menimbulkan masalah. Selain itu pemerintah juga, lanjut Johnny jangan mengalibikan hasil pajak progresif untuk kepentingan bersama yakni membenahi prasarana ibu kota.
Menurut Johnny, pemerintah seharusnya membenahi pengaturan lalu lintas atau traffic management, karena selama ini dinilai Johnny, traffic management di Indonesia masih sangat bermasalah seperti adanya busway.
"Nantinya pajak progresif ini akan menimbulkan banyak masalah dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, dan kita lihat apakah ini benar-benar untuk membenahi jalan atau tidak, mending membenahi traffic managemen seperti busway. Masalah ini belum clear," pungkas Johnny.
(ikh/ddn)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?