Ngeri Banget Dekat-dekat Truk, Ini Kebiasaan Sopirnya yang Bikin Rem Blong

Tim detikcom - detikOto
Senin, 18 Okt 2021 19:34 WIB
Kecelakaan truk timpa minibus di Tol Cipularang
Foto: (Dian Firmansyah/detikcom). Kecelakaan truk timpa minibus di Tol Cipularang
Jakarta -

Berkendara di dekat truk memiliki risiko yang besar. Muatannya yang berat hingga blind spot atau titik tak terlihat yang cukup besar membuat potensi kecelakaan di sekitar truk semakin besar.

Baru-baru ini, Direktur PT Indomarco Prismatama (Indomaret) Yan Bastian meninggal dunia akibat mobilnya tertimpa truk kontainer. Truk kontainer yang menimpa mobil Hyundai Palisade tersebut diduga mengalami hilang kendali.

Banyak kasus kecelakaan terjadi akibat sopir truk tak mampu mengendalikan kendaraannya. Beberapa di antaranya disebabkan oleh rem blong.

Menurut pakar keselamatan berkendara yang juga founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, ada kebiasaan sopir truk yang bikin rem blong. Misalnya di jalanan menurun sopir truk tidak melakukan engine brake.

"Mereka sering free wheel, menetralkan persneling mereka untuk mendapatkan beban kerja mesin jadi rendah sehingga yang ada di kepala mereka adalah mendapatkan efisiensi konsumsi bahan bakar. Saya pernah melakukan penelitian hal itu. Pada saat itu, saya memperhatikan kok truk pada kencang-kencang semua di jalan turun (di jalan tol) dan setiap ngerem itu berasap. Bukan satu, rata-rata. Sampai kita berhenti di pom bensin, kita tanya mereka. Kenapa, katanya untuk menghemat bahan bakar," kata Jusri kepada detikcom, Senin (18/10/2021).

Tindakan sopir truk yang memasukkan gigi netral di jalan menurun itu menurut Jusri menambah beban sistem pengereman. Alhasil, rem bisa panas dan mengalami blong.

"Karena rem kendaraan hanya mengandalkan service brake (rem kaki) semata. Harusnya dapat menggunakan engine brake. Engine brake itu, ketika gigi masuk, itu ada perlambatan atau deselerasi mesin. Laju kendaraan atau laju momentum akan tereduksi oleh transmisi. Transmisi kan ada batasan maksimal, misalnya kita turunan masuk gigi 3, dia akan nahan di situ, nggak mau melaju seperti di gigi 5 atau di netral. Netral kan tanpa ada hambatan, truk itu akan melaju seperti anak panah karena tidak ada hambatan. Sehingga kemampuan rem walaupun diinjak pun nggak akan mampu. Rem akan panas, penyusutan kemampuan rem akan besar sekali ketika rem panas," jelas Jusri.

Rem yang panas membuat rem kendaraan blong. Karena panas, kemampuan rem akan mengalami penyusutan. Alhasil, jarak pengereman menjadi lebih panjang.

"Kalau ini berlebih-lebih terus, akhirnya selang-selang hidrolis (rem) akan pecah, itu akan blong," ucapnya.



Simak Video "Polda Metro: Kecelakaan TransJakarta Sebagian Besar Akibat Human Error!"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)