Warga di Desa Miliarder Borong Mobil, Pahami Ini Dulu Kalau Belum Lancar Nyetir

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rabu, 08 Sep 2021 13:55 WIB
Sumianto, miliarder Sleman langsung beli 3 mobil dari ganti rugi tol, Jumat (3/9/2021).
Sumianto, miliarder Sleman langsung beli 3 mobil dari ganti rugi tol, Jumat (3/9/2021). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom.
Jakarta -

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan soal desa yang warganya mendadak jadi miliarder. Mereka mendapat uang banyak dari hasil ganti rugi pembebasan lahan sejumlah proyek. Tak jarang warga di desa miliarder itu langsung membeli mobil baru.

Berdasarkan catatan detikcom, setidaknya ada empat desa yang warganya mendadak jadi miliarder. Yang terbaru adalah warga di Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Sleman, yang mendapat kompensasi atas lahan untuk proyek Tol Yogyakarta-Bawen. Sebelumnya juga ada desa miliarder di Desa Kale Komara, di Takalar, Sulawesi Selatan yang mendapat ganti rugi lahan proyek bendungan.

Tak cuma itu, warga di Desa Kawungsari, Kecamatan Cibereum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, juga memborong sepeda motor dan mobil dari adanya pembangunan Bendungan Kuningan. Desa miliarder juga ada di Tuban yang memborong ratusan mobil baru usai menerima uang ganti rugi pembebasan lahan untuk proyek kilang yang merupakan kerja sama antara Pertamina dan perusahaan asal Rusia, Rosneft.

Namun, pembeli mobil baru di Tuban saat awal-awal membeli mobil dari uang ganti rugi pembebasan lahan mayoritas belum lancar mengemudi. Sebanyak 15 mobil di kampung miliarder di Tuban itu masuk bengkel. Selain belum lancar mengemudi, hal ini juga gara-gara kondisi jalan desa yang sempit.

Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menyoroti warga di desa miliarder yang memborong mobil tapi belum lancar mengemudi. Padahal menurut Jusri, sebelum turun ke jalan pengemudi harus dibekali pemahaman berkendara yang baik.

"Ini harus paralel, pemahaman tentang skill. Dia harus belajar teknik dasar pengoperasian mobil, seiring dia harus memahami fungsi dari apa yang dia lakukan. Misalnya, kalau dia ngerem itu apa yang terjadi, kapan dia harus ngerem, dia harus tahu. Jangan asal ngerem. Tapi dia harus tahu rem itu fungsinya apa," kata Jusri kepada detikcom, Rabu (8/9/2021).

Jusri mengatakan, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh pemilik mobil baru yang belum lancar mengemudi, selain belajar teknik dasar mengemudi. "Pahami apa yang dia operasikan atau mengapa dia lakukan. Lalu, pahami apa yang dia lihat entah manusia, entah rambu-rambu, entah jalan menikung. Ketiga, pahami ancamannya," beber Jusri.

"Kalau dia lihat jalannya sepi, apa yang harus dilakukan? Mau geber? Padahal ini jalan raya, bisa saja ada orang yang tidak terlihat. Ketika kita tidak melihat ada orang, maka orang yang ada di jalan itu kemungkinan juga tidak melihat kita. Jadi latih keterampilan pengoperasian kendaraan, pahami apa yang dia lakukan, dan mengapa itu dilakukan, kalau begini kenapa, kalau tidak begini kenapa," jelasnya.

Selain skill teknis mengemudi, pengendara juga harus dibekali soft skill. Menurut Jusri, soft skill ini berguna untuk berkendara di jalan raya yang merupakan ruang umum. Adapun contoh soft skill untuk mengemudi antara lain seperti kemampuan kognitif, pemahaman berkendara di jalan raya, kemampuan menilai, etika, empati, tertib berlalu lintas, berbagi di jalan raya, serta sopan di jalan.



Simak Video "Warga 'Desa Miliarder' Kuningan Borong 300 Motor-30 Mobil"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)