Kamis, 01 Okt 2020 11:57 WIB

Kenapa Konvoi Motor Sebaiknya Formasi Zig Zag?

Ridwan Arifin - detikOto
Touring hari pertama Honda PCX di Pulau Bali Denpasar menempuh total perjalanan sejauh 137 km. Di rute hari pertama, rem motor Honda PCX dipaksa bekerja keras. Ilustrasi formasi zig zag saat touring konvoi menggunakan sepeda motor oto: PT Astra Honda Motor
Jakarta -

Touring jadi kegiatan yang tak asing bagi bikers. Berangkat ramai-ramai alias konvoi jadi satu hal yang lumrah dilakukan, tapi ada lho aturan main untuk mengedepankan keselamatan bersama.

Dijelaskan Trainer Director Global Defensive Driving Center (GDDC), Aan Gandhi Mulia Pawarna bahwa formasi yang ideal untuk sepeda motor ialah zig zag.

"Untuk sepeda motor itu konvoi diperhatikan posisinya harus selalu zig-zag, jadi ada yang di kiri dan kanan, tidak boleh di belakang sepeda motor yang lain. Untuk menghindari tabrakan beruntun," ujar Aan saat diskusi virtual beberapa waktu yang lalu.

Selain itu Aan menegaskan untuk memberikan kenyamanan kepada pengguna jalan lain sebaiknya grup konvoi tidak lebih dari 20 sepeda motor. Selain itu hal ini juga diharapkan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas, dan kordinasi peserta konvoi.

"Sebaiknya grup konvoi jangan terlalu panjang karena akan mengganggu pengguna jalan lain. Yang ideal untuk grup konvoi mobil itu hanya 10 mobil, untuk motor adalah 20 motor," tuturnya.

Pun demikian bila konvoi dalam kelompok besar disarankan menggunakan pengawalan kepolisian.

"Grup konvoi sebaiknya harus menggunakan patwal, artinya kalau kita menggunakan patwal, kita sudah mendapatkan izin dari pihak kepolisian.

Selain itu grup konvoi diharapkan mengerti tata cara saat touring dengan memiliki Group Riding Officers, seperti Road Captain (RC) dan Safety Officers.

"Pada saat bikin konvoi harus ada road captain, road captain yang berpengalaman, tentunya yang menjadi panutan saat konvoi, yang mempunyai keterampilan mengemudi yang baik, dan tentunya yang hafal jalan."

"Pada saat di dalam tim konvoi selain patwal dan road captain, selain itu ada officer, kemudian sweeper, lalu tim medis, itu untuk konvoi yang lengkap," ungkap Aan.

Selain itu sebelum konvoi juga diperlukan perencanaan yang matang, khususnya terhindar dari sikap arogansi di jalan.

"Dalam konvoi itu dibagi tiga hal, yang pertama adalah pra perjalanan, manajemen perjalanan, etape perjalanan," kata Aan.

Konvoi yang tidak sesuai anjuran memiliki potensi bahaya karena siapapun tidak akan mampu memprediksi kapan kendaraan didepan akan melakukan pengereman mendadak. Dalam jarak yang terlalu dekat, kondisi ini sangat rentan menyebabkan tabrakan beruntun. Pun dalam hal kecepatan, para peserta diharapkan tertib.

"Untuk kecepatan maksimum sebaiknya tidak boleh di atas 60 km/jam. Karena konvoi itu melewati jalanan umum jadi kecepatan maksimal hanya 60 km/jam," imbuh Aan.

Terakhir Aan menghimbau jangan sekali-kali menggunakan lampu hazard untuk konvoi karena fungsinya bukan untuk itu, melainkan untuk emergency ketika Anda harus menepi karena beberapa faktor, termasuk saat motor mogok di tengah perjalanan.

"Untuk kawan-kawan yang sering melakukan touring baik mobil ataupun motor. Hindari penggunaan lampu hazard, ingat ya. Karena lampu hazard ini lampu emergency hanya dipakai pada saat menepi mungkin kendaraan mengalami kerusakan di jalan raya."

"Lampu hazard tidak boleh digunakan pada saat grup konvoi, apalagi sedang berkabut atau hujan. Jadi apabila saat berkabut atau hujan, cukup gunakan lampu biasa saja." pungkas Aan.



Simak Video "Massa Perguruan Silat Rusak Rumah Warga di Banyuwangi"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com