Minggu, 13 Sep 2020 07:03 WIB

Ternyata Masih Ada LCGC Isi Premium, Nanti 'Ndut-dutan' Lho

Ridwan Arifin - detikOto
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu. BBM Premium dipakai di mobil LCGC Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Mobil murah dan ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) turut meramaikan jalanan di Indonesia. Tapi mobil ini juga dianjurkan untuk penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan Research Octane Number (RON) 92 atau setara Pertamax.

Dijelaskan Probo Prasiddhahayu selaku Pertamina Sales Area Manager Retail Banten bahwa mesin mobil berkompresi tinggi seperti LCGC itu harus disesuaikan jenis RON-nya.

Seperti diketahui RON ialah angka yang menunjukkan seberapa tinggi tekanan yang akan diberikan sampai pada akhirnya bahan bakar akan terbakar secara spontan.

"Mesin dengan kompresi yang tinggi, membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi, informasi kebutuhan RON kendaraan biasanya terdapat dalam buku manual kendaraan ketika kita beli," kata Probo saat diskusi virtual bersama Forum Wartawan Otomotif, Jumat (11/9) lalu.

Tapi, Probo menyebut bahwa temuan di lapangan masih banyak pengguna mobil LCGC tidak menggunakan bensin sesuai rekomendasi pabrikan.

"Bahkan perusahaan, atau kita yang usaha angkutan pun pakai mobil ini. Kita sering perhatikan mobil ini sering antre isi RON 88 atau yang namanya Premium, padahal kita baca di sini bahwa spesifikasinya adalah minimal RON 92, jelas tertulis di buku manual bahkan diperjelas di tangki maupun di kaca belakang," tuturnya.

Apa efeknya jika mobil tak diisi BBM sesuai dengan rekomendasi pabrik?

Salah satu akibat yang umumnya bisa terjadi adalah gejala ngelitik pada mesin yang disebabkan karena ruang bakar yang kotor akibat kerak karbon yang menumpuk akibat pembakaran yang tidak sempurna.

"Dalam jangka pendek tentu kita akan merasakan kurangnya tenaga yang tidak optimal. Jelas lebih boros, ketika timbalnya besar otomatis banyak yang terbuang," ujar Probo.

"Paling nyebelin adalah ketika kita dandan keren, mau nongkrong di kafe mana, (bunyi) teketeketek teketekek, ngelitik semua mobilnya, ndut-dutan," sambung dia.

Lanjut Probo, menggunakan BBM beroktan yang di bawah rekomendasi pabrika) bisa membuat ongkos lebih mahal lho, detikers. Sebab mobil bisa mengalami berbagai kerusakan yang pada akhirnya harus mengeluarkan kocek dalam-dalam.

"Ada oksidasi dan sebagainya, otomatis biaya perawatan mesin yang tadinya servis berkala ganti oli dan sebagainya akhirnya berdampak pada perawatan mesin yang lebih mahal," ungkap Probo.

"Jangka panjang, bisa lebih parah lagi, merusak piston, berkerak, turun mesin belum waktunya, jadi durability dari mesin juga pengaruh gara-gara kendaraan tidak sesuai dengan RON tadi. Belum lagi efek dari emisi gas buang yang tidak sempurna pembakarannya (terhadap lingkungan-Red)," imbuh dia.



Simak Video "Ini Hasil Pertemuan Ahok dan Erick Thohir"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com